Tampilkan postingan dengan label Cerita Wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Wayang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Januari 2015

Ranjapan Abimanyu / Abimanyu Gugur


 
Nggemprang Kuda Pramugari  bagai lari kijang dengan meninggalkan debu mengepul diudara. Gerak lajunya bagai tak menapak tanah. Tak lama Abimanyu sudah ada dihadapan Prabu Kresna dan Raden Trustajumna.

“Anakku yang bagus, sudah datang kiranya disini. Aku minta tenagamu kali ini, ngger !” sapa Prabu Kresna. Hatinya bergolak antara rasa tak tega kepada sang menantu menyongsong kematian atau membiarkannya maju memperbaiki formasi baris. Tetapi isi kitab jalan certita Baratayuda, Jitapsara di dalam ingatannya, membawanya mengatur laku apa yang seharusnya terjadi. Isi kitab itu lebih berpengaruh dalam benaknya.

Bersembah Abimanyu kehadapan ayah mertua, juga uwaknya,

“ Sembah bektiku saya berikan keharibaan uwa prabu. Bahagia rasanya dapat terlibat dalam perkara yang sedang menggayuti para orang tua orang tua kami”
 
“Baiklah, karena rusaknya barisan Hupalawiya sudah sangat parah, sekaranglah saatnya bagimu anakku, untuk membereskan kembali barisan dan gantilah dengan tata gelar baru”. Perintah sang uwa

“Uwa prabu, saya minta gelar apapun yang hendak dibangun, perkenankan saya untuk ditempatkan pada garda depan”. Pinta Abimanyu
“Yayi Drestajumna, apa gelar yang hendak kamu bangun?” Kembali Prabu Kresna menegaskan kepada Raden Drestajumna.

“Kiranya yang cocok dengan keadaan saat ini adalah Supit Urang, atas permintaan anakmas Abimanyu, kami tempatkan kamu dalam posisi sungut !”. Demikian putusan Sang Senapati.

Segera, dengan sandi, dikumandangkan, para prajurit yang sudah kocar kacir perlahan lahan membentuk diri lagi. Drestajumna menempati capit kiri sedangkan Gatutkaca ada pada sisi capit kanan. Arya Setyaki ada pada bagian kepala, sedangkan pada ekor adalah Wara Srikandi.

Perlahan namun pasti, barisan Pandawa Mandalayuda dapat kembali solid. Demikian besar pengaruh kedatangan Abimanyu dalam membuat tegak kepala para prajurit Randuwatangan. Amukan Abimanyu diatas punggung kuda Pramugari, bagaikan banteng terluka. Kuda tunggangan Abimanyu yang bagai mengerti segenap kemauan penunggangnya, berkelebat mengatasi musuh yang mengurung. Gerakannya gesit bagai sambaran burung sikatan. Olah panah yang dimiliki penungangnya  untuk menumpas musuh dari jarak jauh, dan keris Pulanggeni untuk merobohkan musuh didekatnya  tak lama membawa puluhan korban. Tak kurang beberapa orang Kurawa seperti Citraksi, Citradirgantara, Yutayuta, Darmayuda, Durgapati, Surasudirga dan banyak lagi, telah tewas. Bahkan Arya Dursasana yang hendak meringkus terkena panah Abimanyu. Walaupun tidak tedas, namun kerasnya pukulan anak panah menjadikannya ia muntah darah. Lari tunggang langgang Arya Dursasana menjauhi palagan.

Haswaketu yang mencoba menandingi kesaktian Abimanyu, tewas tersambar Kyai Pulanggeni warisan sang ayah, Arjuna. Raungan kesakitan berkumandang dari mulut Haswaketu membuat jeri kawannya, Prabu Wrahatbala dari Kusala.

Namun, malu Wrahatbala, bila diketahui perasaanya oleh kawan maupun lawan, ia terus maju mendekati Abimanyu. Sekarang keduanya telah berhadapan. Gerakan Wrahatbala gagap, kalah wibawa dengan Abimanyu yang masih sangat muda, tetapi dengan gagah berani telah mampu memulihkan kekuatan barisan dan bahkan telah menewaskan ratusan prajurit dalam waktu singkat. Oleh rasa yang sudah kadung rendah diri, gerakannya menjadi serba canggung. Tak lama ia menyusul temannya dari Kamboja terkena oleh  pusaka yang sama. Tersambar Kyai Pulanggeni, raga Wrahatbala roboh tertelungkup diatas kudanya dan tak lama jatuh bergelimpang ke tanah.

Namun bukan dari pihak Bulupitu saja yang tewas, ketika Bambang Sumitra yang maju bersama Abimanyu dengan amukannya, terlihat oleh Adipati Karna. Niat Adipati Karna sebenarnya hanya mengusir anak Arjuna agar tidak maju terlalu ketengah dalam pertempuran. Perasaan seorang paman terhadap keponakannya kadang masih menggelayuti hatinya. Teriakannya untuk mengusir keponakannya tak dihiraukan, maka lepas anak panah menuju ke kedua satria anak Arjuna. Abimanyu luput namun Sumitra terkena didadanya. Gugurlah salah satu lagi putra Arjuna.

  Bambang Sumitra
Dibagian lain juga terjadi hal yang sama, Bambang Wilugangga terkena panah Prabu Salya rebah menjadi kusuma negara.
Sementara itu, para raja seberang, ketika melihat dua raja telah tewas dalam waktu singkat menjadi jeri. Mahameya mendekati salah satu temannya Swarcas, membisikkan strategi bagaimana cara menjatuhkan Abimanyu. Ditetapkan kemudian mereka berempat, Mahameya, Swarcas, Satrujaya dan Suryabasa akan maju bersama mengeroyok Abimanyu. Tak peduli hal itu tindakan ksatria atau tidak, yang penting mereka dapat menghabisi tenaga baru yang berhasil memukul balik kekuatan baris para Kurawa.

Namun bukan Abimanyu bila tidak mampu mengatasi serangan empat raja sakti dari berbagai penjuru. Licin bagai belut, Abimanyu menghindari serangan bergelombang dengan senjata ditangan masing masing lawannya. Bahkan sesekali Abimanyu dapat mengenai pertahanan mereka satu persatu. Makin gemas ke empat lawannya yang malah bagai dipedayai.

Kelihatanlah kekuatan masing masing pihak, tak lama kemudian.

Ketika pedang Mahameya terpental karena lengannya terpukul Abimanyu, sebab dari rasa kesemutan yang hebat memaksa ia melepaskan pedangnya. Pada saat itulah Kyai Pulanggeni menusuk lambungnya. Kembali satu lawan roboh dari atas punggung kudanya. Tiga lawan tersisa menjadi ciut nyalinya.
Gerakannyapun menjadi semakin tidak terarah, satu persatu lawan Abimanyu dapat diatasi. Kali ini Swarcas menjadi korban  selanjutnya.

Gerak kordinasi antar ketiga lawan tidak lagi serempak menjadikan mereka saling serang. Swarcas terkena tombak dari Satrujaya. Meraung kesakitan Swarcas, jatuh terguling tak bangun lagi.

Satrujaya dan Suryabasa gemetaran, mereka tak percaya dengan apa yang barusan sudah terjadi.
“Hayuh, majulah kalian berdua, pandanglah bapa angkasa diatasmu, dan menunduklah ke ibu pertiwi, saatnya aku antarkan kamu berdua ke Yamaniloka !”. kata kata Abimanyu hampir saja tak terdengar oleh mereka, karena kerasnya dentam detak jantung kedua raja seberang yang semakin tak dapat menguasai dirinya lagi.
Dengan sisa keberaniannya keduanya sudah kembali menyerang lawannya dari kedua arah. Gerakannya yang semakin liar tak terkendali, tanda keputus-asaan, membuat Abimanyu dengan mudah membulan-bulani mereka berdua. Tanpa membuang waktu lagi, disudahi pertempuran keroyokan itu dengan sekali ayunan Kyai Pulanggeni. Jerit ngeri keduanya mau tak mau membuat hampir semua mata mengarahkan pandangannya kearah kejadian.

Pandita Durna sangat kagum dengan kroda prajurit muda belia itu. Dalam hatinya ia mengatakan,

“Weleh . . . . ,tidak anak, tidak bapak.! Keduanya ternyata sama saktinya. Kalau hal seperti ini dibiarkan, tak urung binasalah barisan prajurit Kurawa. .  !”.
Segera dipanggilnya Sangkuni dan Adipati Karna serta Jayadrata. Setelah mereka menghadap, Pandita Durna menguraikan karti sampeka akal akalannya,
“Adi Sangkuni, nak angger Adipati serta Jayadrata, bila dengan cara okol kita tidak dapat mengatasi amukan Abimanyu, maka kita harus menggunakan kekuatan akal kita. Setuju Adi Sengkuni ?”
“Eee. . . kakang Durna, kalau masalah itu jangan lagi ditanyakan ke saya. Pasti setuju!” Sangkuni mengamini.
“Terus anak Angger Adipati, kali ini tak ada jalan lain. Bila hal ini diterus teruskan, maka akan kalah kita . Minta pendapatnya nak angger Adipati! ”. Seakan Durna minta pertimbangan, padahal didalam otaknya sudah tersimpan rencana licik bagaimana cara mengatasi keadaan yang sudah mengkawatirkan itu.


Karna

Saat itu ia terhindar dari tuduhan Siti Sundari, namun setelah Kalabendana raksasa boncel lugu, paman Raden Gatutkaca, membocorkan rahasia perkawinannya dengan Putri Wirata, kusuma Dewi Utari, akhirnya terbuka juga rahasia yang tadinya tertutup rapi. Walau tak terjadi apapun akhirnya antar kedua istri pertama dengan madunya, namun sumpah tetaplah sumpah, ia berketatapan hati, inilah bayaran atas janjinya.

Diceritakan, Lesmana Mandrakumara alias Sarjakusuma, putra Prabu Duryudana yang baru saja mendapat ijin dari sang ibu untuk pergi ke peperangan. Padahal selamanya sebagai anak manja, ia tak banyak ia berkecimpung dalam keprajuritan, sehingga sifat penakutnya sangat kentara.

Dengan jumawa, kali ini ia melangkah menghampiri Abimanyu. Lesmana menghina Abimanyu dengan kenesnya, diiringi kedua abdinya yang selama ini memanjakannya, Abiseca dan Secasrawa.

Segera Sarjakusuma menghunus kerisnya untuk menamatkan riwayat Abimanyu. Anggapannya, ialah yang akan menjadi pahlawan atas gugurnya satru sakti yang akan dipamerkan kepada ayahnya.

“E . . e . . e . . . , Abimanyu, bakalan tak ada lagi yang menghalangi aku menjadi penganten bila aku kali ini membunuhmu. Atau jandamu biar aku ambil alih. Rama Prabu pasti gembira tiada terkira, kalau aku berhasil memotong lehermu”.

Dengan langkah yang masih seperti kanak-kanak sedang bermain main, ia maju semakin mendekat masih dalam kawalan kedua abdinya yang sedikit membiarkannya, memandang enteng kejadian didepan matanya.

“Terserahlah paman pendita, kali ini aku menurut kemauanmu ! ”. Jawab Narpati Basukarna sekenanya.

“Nah begitulah seharusnya. Kali ini aku meminta jasamu nak angger Adipati. Anak angger yang aku pilih karena memang seharusnya anak anggerlah yang dapat mengatasi masalah ini”. Durna mulai membuka strategi.

“Baik Paman Pendita, apa yang harus aku lakukan?” berat hati Karna menyahut.

“Begini, Adi Sengkuni, segeralah naikkan bendera putih tanda menyerah. Kemudian Anak Angger Adipati segera mendekati Abimanyu. Rangkul dan rayulah. Katakan kehebatannya dan pujilah ia. Selanjutnya Jayadrata, panahlah Abimanyu dari belakang. Bila sudah terkena satu panah, tidak lama lagi pasti akan gampang langkah kita”. Pandita Durna menjelaskan strateginya.

“Baiklah Paman Pendita, mari kita bagi bagi peran masing masing”. Adipati Awangga itu segera melangkah menjalankan strategi yang telah dirancang.
Demikianlah. Maka akal culas Pendita Durna mulai dilakukan. Kibaran bendera putih Patih Harya Suman membuat hingar bingar peperangan perlahan terhenti. Dalam hati para prajurit tempur saling bertanya, kenapa perang dihentikan?  Sementara orang mengerti, bila perang terus berlanjut, maka kebinasaan pihak Kurawa tinggal menunggu waktu.

Kali ini giliran Adipati Karna mengambil peran, didekatinya Abimanyu:

“Berhentilah anakku bagus . .!, Kemarilah. Sungguh hebat anakku yang masih remaja sudah dapat membuat takluk barisan Kurawa. Uwakmu sungguh ikut bangga dengan apa yang kamu perbuat . . . ” Setelah mendekat, dipeluknya Abimanyu dengan hangat, layaknya seorang paman terhadap keponakan yang telah  berhasil berbuat hal yang menakjubkan.

“Apakah sungguh begitu uwa Narpati . !   Bila memang barisan uwa sudah takluk, dan memang demikian adanya, segera eyang Durna dibawa kemari, layaknya seorang senapati takluk terhadap lawan”. Bangga Abimanyu.

Kebanggaan itu ternyata tidak berlangsung lama, Jayadrata dengan kemampuan memainkan gada yang luar biasa adalah juga seorang pemanah ulung. Dibidiknya punggung Abimanyu, seketika jatuh terduduk Abimanyu dengan darah menyembur dari lukanya.

Tak sepenuhnya tega Adipati Karna memegangi keponakannya yang terluka, mundurlah ia menjauhi arena peperangan. Ditemui Pandita Durna untuk diberi laporan.

“Paman Pendita, sekarang rencana paman sudah berhasil. Abimanyu terluka dipunggungnya, untuk tindakan selanjutnya, saya tidak ikut mencampuri urusan lagi”. Tutur Adipati Karna.

Terkekeh kekeh tawa Sang Pandita mengetahui rencananya sudah berhasil. Pikirnya biarlah tanpa Adipati Karna pun kemenangan sudah sebagian besar dicapai kembali. Segera Karna menjauh balik ke pesanggrahan.

Sepeninggal Adipati Karna, segera Durna memberi aba-aba untuk kembali menyerang. Namun Abimanyu tidaklah gentar, malah ia semakin bergerak maju menyongsong serangan.

“Heh para Kurawa . .!, Memang dari dulu sifat culas itu tidak akan pernah hilang. Akan aku kubur sifat culas kalian,  sekalian  dengan yang raga menyandangnya. Hayo majulah kalian bersama-sama. Tak akan mundur walau setapakpun walau Duryudana sekalipun yang maju !!”.
Walau terluka, ternyata Abimanyu masih segar bugar. Suaranya masih lantang dan berdirinya masih tetap tegar.

Melihat lawannya terkena panah yang masih menancap di punggungnya, aba aba keroyok bersahut sahutan. Dari jauh anak panah lain dilepaskan oleh warga Kurawa, sementara yang dekat melontarkan tombak dan nenggala serta trisula bertubi tubi. Dalam waktu singkat, segala macam senjata menancap ditubuh satria muda itu.

Namun hebatnya satria muda yang terluka parah ini masih maju dengan amukannya. Dari kejauhan gerakan sang prajurit muda itu bagai gerak seekor landak, oleh banyaknya anak panah dan tombak yang menancap di sekujur tubuhnya. Malah bila digambarkan lebih jauh lagi, ujud dari satria tampan ini bagaikan penganten sedang diarak. Kepala yang penuh senjata seperti karangan bunga yang terrangkai sementara tubuhnya bagaikan kembar mayang yang mengelilingi raganya. Ada sebagian senjata tajam mengiris perutnya. Usus yang memburai yang disampirkan pada duwung yang terselip di pinggangnya, seperti halnya untaian melati menghiasi pinggang.

Darah yang mengalir deras bagaikan lulur penganten yang membuatnya menjadi makin berkilau diterpa sinar matahari. Tidaklah berbau anyir darah Abimanyu, malah mewangi sundul ke angkasa raya. Saat itulah para bidadari turun menyaksikan kegagahan sang prajurit muda belia. Dalam pendengaran para bidadari, suasana yang dilihat bercampur dengan kembalinya denting padang yang beradu dan tetabuhan kendang, suling serta tambur penyemangat, bagaikan pesta penganten yang berlangsung dengan iringan gamelan berirama Kodok Ngorek!

Dilain pihak, dalam pikiran Abimanyu teringat akan sumpahnya kala menghindar dari pertanyaan istri pertamanya, Retna Siti Sundari, ketika curiga bahwa sang suami sudah beristri lagi. Sumpah yang diiringi gemuruh petir, bahwa bila ia  berlaku poligami, maka bolehlah orang senegara meranjap tubuhnya dengan senjata apapun.


Lesmana Mandrakumara

Abimanyu yang melihat kedatangan Lesmana Mandrakumara  mendapat ide, tidak dapat membunuh Duryudana-pun tak apa, bila putra mahkota  terbunuh, maka akan hancur juga masa depan uwaknya itu. Makin dekat langkah Sarjakusuma yang ingin segera menamatkan penderitaan sepupunya. Tapi malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, dengan tenaga terakhir , sang prajurit muda masih mampu menusukkan Kyai Pulanggeni ke dada tembus ke jantung putra mahkota Astina, tak ayal lagi tewaslah Lesmana Mandrakumara, berbarengan dengan senyum terakhir mengembang dibibir prajurit muda gagah berani itu. Abimanyu telah tunai melunasi janjinya.

Kembali suasana menjadi gempar. Gugurnya kedua satria muda dengan beda karakter bumi dan langit membuat perang berhenti, walau matahari belum lama  beranjak dari kulminasi. Kedua pihak bagai dikomando segera menyingkirkan pahlawan mereka masing masing.
Syahdan, Retna Siti Sundari yang hanya diiring oleh abdi emban menyusul  ke peperangan, telah sampai pada saat yang hampir bersamaan dengan gugurnya sang suami tercinta. Oleh istri tuanya, Utari tidak diperkenankan pergi bersamanya , sebab dalam kandungan tuanya terkadang terasa ada pemberontakan didalam, seakan sang jabang bayi sudah tak sabar hendak mengikut kedalam perang besar keluarga besarnya. Kemauan besar Retna Utari untuk ikut serta kemedan perang, terhalang oleh madu dan anaknya yang masih ada di dalam gua garba. Bahkan sang ibu mertua, Wara Subadra juga melarang Utari untuk pergi.

Ketika terdengar teriakan gemuruh menyatakan Abimanyu telah gugur, jantung wanita muda ini makin berdegup kencang. Ia segera berlari ketengah palagan tanpa menghiraukan bahaya yang mengintip diantara tajamnya kilap bilah-bilah pedang dan runcingnya ujung tombak. Sesampai di hadapan jenasah suaminya yang tetancap ratusan anak panah. Tidak terbayang sebelumnya akan keadaannya yang begitu mengenaskan, Siti Sundari lemas dan kemudian tak sadarkan diri. Suasana kesedihan bertambah mencekam dengan pingsannya sang istri prajurit muda itu.
Bumi seakan berhenti berputar, awanpun berhenti berarak. Burung burung didahan tak hendak berkicau, kombangpun berhenti menghisap madu. Jangankan sulur gadung dan bunga bakung yang bertangkai lembek, bahkan bunga perdu, seperti bunga melati dan cempaka ikut tertunduk berkabung terhadap satu lagi kusuma negara yang gugur, di lepas siang .

Sebentar kemudian, setelah siuman, Retna Siti Sundari yang telah sadar apa yang terjadi di sekelilingnya segera menghunus patrem, keris kecil yang terselip dipinggangnya. Dihujamkan senjata itu ke ulu hati. Segera arwah sang prajurit muda, Abimanyu, menggandeng tangan sukma istrinya, mengajaknya meniti tangga tangga kesucian abadi menuju swargaloka. Raga sepasang suami istri muda belia tergolek berdampingan. Mereka telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Sabtu, 27 Desember 2014

Cerita Wayang Abimanyu Gugur

Abimanyu Gugur


Dalam episode perang Baratayuda, dikisahkan Abimanyu sengaja disembunyikan oleh kedua orangtuanya dan didukung oleh saudara-saudaranya kadang Pandawa. Abimanya menjadi pewaris tahta kerajaan Amarta, sehingga keselamatan Abimanyu menjadi sangat berarti bagi Keluarga Kerajaan Amarta. Abimanyu menjadi simbul kemenangan Kadang Pandawa sehingga pantaslah dalam perang besar baratayuda itu ia disembunyikan di tempat yang sangat rahasia dijaga oleh istrinya Dewi Utari  dan ibunya Woro Subodro ia tidak boleh keluar dari tempat sembunyi tersebut.
 Dewi Utari istri Abimanyu kebetulan sedang mengandung, sehingga ia tidak mau lepas dari suami yang tercinta walaupun sebentar saja. Semua orang tua Pandawa memberikan “wanti-wanti” (pesan yang sangat tidak boleh dilanggar) kepada Abimanyu, bahwa ia tidak boleh ikut berperang melawan Kurawa.
Setiap manusia memang memiliki kisah sendiri-sendiri. Sebelum beristri dengan Dewi Utari sebenarnya Abimanyu telah memiliki istri yang bernama Siti Sendari. Pada waktu kenalan dengan Dewi Utari Abimanyu mengaku sebagai perjaka. Pada waktu itu Dewi Utaripun curiga dan tidak percaya kepada Abimanyu karena Dewi Utari kurang yakin jika Abimanyu belum memiliki istri. Karena terlanjur cinta kepada Dewi Utari Abimanyu terpaksa berbohong, untuk meyakinkan Dewi Utari ia bersumpah : “Dewi Utari ingsun isih legan durung duwe kromo.., yen ora percaya aku wani mati dikrocok gaman sewu”(Dewi Utari saya masih perjaka belum punya istri jika tidak percaya saya berani sumpah mati ditumbak seribu senjata).
Sumpah kebohongan Abimanyu disaksikan bumi, langit, laut, dan gunung. Seketika terdengar petir yang menggelegar..,, kilat menyambar-nyambar. Dewi Utari termakan bujuk rayu dan sumpah palsu Abimanyu, sehingga terwujud keduanya menjadi pasangan suami istri.
Pada waktu terjadi perang besar antara pandawa dan kurawa Abimanyu berada pada persembunyian yang dirahasiakan. Setiap manusia memang memiliki rencana tetapi Tuhan-Pun memiliki rencana : “wamakaru wamakarullahi, wawallahu khairul makirin” (orang-orang itu merencanakan kejahatan, Allah-Pun merencakan pula, maka sebaik-baik rencana adalah rencana Allah.) Dalam persembunyian hati Abimanyu tidak merasa tentram, makan tidak selera, tidurpun tidak bisa nyenyak. Yang ia pikirkan hanya “Tegal Kuru Setra” tempat saudara-saudara berjihad perang melawan kebatilan. Sebagai seorang yang masih berdarah muda hatinya terpanggil, untuk ikut berperang dimedan laga untuk membela bangsa dan Negara. Dalam hatinya terjadi perang batin antara mengikuti pesan orang tua atau membela Negara. Jika ia minta ijin kepada istrinya atau ibunya mustahil keduanya memberikan ijin.
Abimanyu berdiam diri termenung memikirkan langkah apa yang terbaik bagi dirinya dan Negaranya. Dalam keadaan tersebut tiba-tiba ia melihat seekor “undur-undur”  (binatang kecil yang berjalan dengan cara mundur biasanya berada pada tanah yang berdebu). Binatang tersebut memberikan inspirasi kepada Abimanyu untuk segera pergi ke medan pertempuran dengan cara mundur-mundur, artinya dia meninggalkan tempat persembunyiannya dari sedikit demi sedikit setelah istri dan ibunya terlena segera ia cepat-cepat lari keluar dari persembunyian menuju medan pertempuran.
   Abimanyu sudah memakai pakaian perang dengan mengendarai kuda. Dengan gagah berani ia segera menerjang dan memporak porandakan musuhnya yaitu para kurawa. Pasukan Pandawa yang semula sudah terdesak kini dapat mendesak pasukan Kurawa. Pasukan Kurawa kalang kabut banyak korban berjatuhan, banyak bala tentara yang mati seperti “babadan pacing” tumbuhan perdu yang roboh setelah ditebas dengan pedang.
Senopati Kurawa Bagawan Durna mengumpulkan para jendral untuk mengadakan “briefing” apa yang menyebakan, langkah/strategi apa yang harus segera ditempuh untuk mengalahkan Pandawa. Hasil dari briefing tersebut diputuskan strategi perang yang baru. Apa yang menyebabkan kekuatan Pandawa tiba-tiba meledak-ledak ternyata ada perwira muda yang gagah berani yaitu Abimanyu.
Bagawan Durna memutuskan strategi yaitu Pasukan Pandawa harus dipancing dipecah menjadi 3 bagian, Arjuna dipancing musuhnya keluar dari Tegal Kurusetra lari kearah pantai, Werkudara dipancing musuhnya lari keselatan kearah pegunungan. Tinggal Abimanyu sendiri ditinggal di Tegal Kurusetra. Pasukan Kurawa menggunakan gelar perang “tepung gelang”. Abimanyu yang seorang diri dipancing untuk masuk ke perangkap yang dirancang Bagawan Durna.
Bagawan Durna memerintahkan kepada Adipati Karna untuk melepaskan anak panah yang ditujukan ke arah kuda yang ditunggangi Abimanyu. Kuda Abimanyu roboh seketika ke tanah setelah terkena anak panah tepat mengenai lehernya. Hati Abimanyu terasa teriris-iris setelah mengetahui kudanya tewas terkena anak panah. “aja mati dewe tak belani” (jangan mati sendiri aku membelamu). Abimanyu segera melompat sambil memegang sebuah pedang mengejar prajurit Kurawa. Siasat perang Bagawan Durna benar-benar terlaksana, dengan dipancing seorang prajurit Abimanyu masuk ke perangkap yang dinamakan pasukan “tepung gelang”. Abimanyu seorang diri dikepung ribuan prajurit yang membentuk lingkaran besar dengan anak panah siap melesat dari busurnya.
Bagawan Durna memberi aba-aba satu..,dua…,tigaaaa….,semua prajurit melepaskan anak panah kearah Abimanyu yang berada di tengah-tengah. Abimanyu terkena panah dari segala arah. Seluruh tubuh Abimanyu sudah tidak ada bagian yang tidak terkena anak panah. Darah mengalir membasahi tubuh Abimanyu. Menurut kisah busur panah yang digunakan prajurit Kurawa sengaja dibuat dari kayu “sempu”, kayu tersebut yang menyaksikan ketika Abimanyu bersumpah kepada Dewi Tari =
Adinda Dewi Tari percayalah kepadaku tidak ada orang yang paling kucinta selain dirimu…, siang malam aku selalu memikirkanmu, aku tidak bisa lepas dari bayangan wajahmu! Kata Abimanyu.
 “Baik.., Kakang Abimanyu. Saya percaya kalau Kakang mencintaiku.., tetapi Kakang Abimanyu sudah punya istri aku tidak mau menyakiti perasaan wanita, karena aku juga seorang wanita yang memiliki perasaan.” Kata Dewi Tari
Aku masih perjaka Dinda.., Aku belum beristri ! Abimanyu merayu.
Aku tidak yakin Kakang Abimanyu masih perjaka…!” kata Dewi Tari
Kalau Dinda tidak yakin…, aku berani bersumpah yang disaksikan oleh bumi, langit, gunung, samudera, dan kayu sempu ini.., Aku bersumpah bahwa aku masih perjaka jika aku berbohong aku berani mati dengan dikrocok gaman sewu (ditumbak senjata yang sangat banyak)” kata Abimanyu.
Sumpah Abimanyu menjadi doa yang disaksikan oleh bumi, langit, gunung, dan samudera. Sehingga berhati-hatilah jika kita berbicara ada pepatah mengatakan mulutmu adalah harimaumu. Abimanyu tidak dapat roboh meskipun terkena ribuan anak panah karena tubuhnya ditopang oleh ribuan anak panah yang tertancap di badannya. Prajurit Kurawa segera mendekat karena mengira Abimanyu sudah mati berdiri. Tidak ketinggalan putera mahkota Kurawa Pangeran Lesmana Mandrakumara ikut mendekat melihat dari dekat Abimanyu yang sudah tidak berujud manusia tersebut. Dengan kata-kata yang penuh kesombongan dan menyakitkan Lesmana Mandrakumara menantang Abimanyu. Dengan pongah ia menantang =
katanya kamu pasukan khusus…, hayo mana sekarang kekuatanmu. Ternyata kamu hanya jago ayam potong…, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aku. Hayo mana kekuatanmu lawan aku..! kata Lesmana Mandrakumara.
Abimanyu hanya tertunduk malu, dalam hatinya berkata bunuhlah aku biar aku dapat mati sempurna sebagai prajurit yang membela kebenaran, keadilan, sebagai prajurit yang “netepi kesaguhan” mati membela bangsa dan Negara. Air mata Abimanyu mengalir menetes di sela-sela anak panah yang tertancap di wajahnya. Ia teringat akan pesan ayahnya Arjuna dan Ibunya Sembodro yang karena cinta kepadanya ia disembunyikan ditempat rahasia. Tetapi ia sudah terlanjur menjadi korban peperangan. Abimanyu berkata lirih : “Ayah….., Ibu…., jangan marah, jangan sedih …, ananda mati lebih dahulu…, jangan salahkan aku karena aku netepi sumpahku.”
Jangan menangis kau Abimanyu.., kau prajurit cengeng…, dimana keberanian kamu…, saat ini kamu pasti akan mati…, aku bersumpah jika kau mati istrimu yang cantik itu akan aku rebut, istrimu akan aku boyong ke Kurawa..!” kata Lesmana Mandrakumara.
Mendengar kata-kata Lesmana Mandrakumara hati Abimanyu menjadi marah karena ada kata-kata akan merebut istri yang ia cintai, istri yang menyebabkan ia rela mengorbankan segalanya. Seperti ada kekuatan yang datang, tiba-tiba Abimanyu menebaskan pedang yang masih ia gengam sebelumnya tepat mengenai leher Lesmana Mandrakumara, seketika ia roboh bersimbah darah. Lesmana Mandrakumara tewas seketika. Mengetahui putra mahkota menjadi korban, Jayajatra prajurit pengawal raja menghujamkan tombak ke arah dada Abimanyu. Abimanyu roboh seketika iapun meninggal dunia.
Berita kematian Abimanyu segera sampai ketelinga Kadang Pandawa. Dewi Sembodro ibu Abimanyu langsung lari ke medan pertempuran mencari jasad anaknya. Pasukan pengawal keluarga kerajaan mengejar Dewi Sembodro. Di tengah tanah lapang ditemukan jasad anaknya yang penuh dengan luka “tatune arang kranjang
anakku yang malang…, mengapa engkau tidak percaya nasehat ibumu….,kalau kau mati ibumu ikut mati saja……..” Sembodro jatuh pingsan dekat jasad anaknya.
“Prajurit.., angkat Tuan Putri bawa ke perkemahan” kata Kresna.
Arjuna segera berlari ikut mendekat jasad anaknya karena ia baru datang dari tempat yang jauh mengejar musuhnya. “Dimana anakku….., oh ngger…, mengapa seperti ini…., jangan mati sendiri, aku akan membalas untuk kamu, Aku bersumpah sebelum matahari terbenam aku harus dapat membunuh Jayajatra kalau tidak lebih baik aku  mati bunuh diri dengan mati obong(masuk kedalam api yang berasal dari tumpukan kayu yang dibakar).”
Berita sumpah Arjuna sampai juga ke telinga prajurit Kurawa, untuk mengatasi hal yang tidak diinginkan Jayajatra untuk sementara disembunyikan di “Gedong Wojo” semacam bunker/bangunan bawah tanah yang letaknya tersembunyi. Orang tua Jayajatra yang bernama Bagawan Sempani selalu berdzikir meminta kepada sang pencipta agar anaknya tidak mati. Hanya saja kadang dzikirnya tidak sesuai karena menggunakan bahasa Indonesia : Tu-han, Tu-han, Tu-han menjadi han-tu, han-tu, han-tu…,anakku Jayajatra hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup, hi-dup,………………….dst.
Hari sudah mulai sore tetapi Arjuna belum dapat membalas kematian anaknya, Kresna yang menjadi botohnya Pandawa merasa kawatir kalau sampai matahari tenggelam Jayajatra tidak dapat dibunuh Arjuna harus netepi jiwa kesatriyanya dengan mati obong. Kresna dengan kekuatan batinnya menciptakan mendung hitam gelap sehingga tampak hari sudah hampir malam. Beliau minta kadang Pandawa untuk menyiapkan kayu bakar dan para prajurit agar berteriak sekeras-kerasnya = Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, suara itu terdengar sampai ke perkemahan prajurit Kurawa karena mengira hari sudah malam, prajurit Kurawa berbondong-bondong mendekat ke perapian ingin melihat dari dekat Arjuna mati obong.

Jayajatra yang berada di Gedong Wojopun mendengar sayup-sayup Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…!, Arjuna mati obong…! Ingin rasanya ia mengetahui apa yang terjadi. Jayajatra memberanikan diri membuka jendela untuk melihat apa yang terjadi dari balik jendela. Bagawan sempani tak henti-hentinya berdzikir kepada Tuhan agar sampai matahari tenggelam nanti anaknya selamat.
Kresna tahu bahwa Jayajatra tidak akan mati jika ayahnya (Bagawan Sempani) berdzikir dengan selalu mengucapkan kata-kata hidup, hidup, hidup…maka Jayajatra tidak akan mati.
Tetapi tidak kurang akal, Kresna mengubah wujudnya menjadi seekor lalat yang mengganggu Bagawan Sempani yang sedang berdzikir. Lalat tersebut hinggap dibibir Bagawan Sempani, sebentar terbang hinggap di mata sebentar hinggap di bibir kanan Bagawan Sempani, ketika dipukul pakai tangan lalat tersebut hinggap di pelipis.
Pada saat dzikir Bagawan Sempani selalu mengucapkan kata-kata = “Anakku Jayajatra hidup, hidup, hidup” tiba-tiba lalat hinggap dipupu Bagawan Sempani, sejenak dzikir Bagawan Sempani terdiam sebentar, kemudian dengan mengambil ancang-ancang Bagawan Sempani memukul lalat tersebut dengan tangannya “mati, mati, mati kamu” seketika lalat berubah wujud menjadi Kresna dengan berkata “Bagawan Sempani anakmu Jayajatra mati.”
Ditempat yang terpisah Arjuna sudah bergerilya mengintip persembunyian Jayajatra di Gedong Wojo. Jayajatra berusaha membuka jendela untuk mengetahui apa benar Arjuna mati obong. Pada waktu Jayajatra membuka jendela secepat kilat melesat panah Arjuna tepat mengenai leher Jayajatra bersamaan dengan Dzikir Bagawan Sempani berucap mati, mati, mati,… maka tewaslah Jayajatra dan lunaslah sumpah Arjuna. Ternyata hari belum malam, setelah mendung hilang matahari tampak bersinar ikut menyaksikan tewasnya sang angkara murka Jayajatra.

Gugurnya Abimanyu dalam perang Baratayuda dalam khasanah budaya jawa akibat sumpah palsu yang pernah ia lontarkan kepada Dewi Utari sebagai pembelajaran “ngunduh wohing pakarti, sing nandur kabecikan ngunduh kabecikan sing nandur ala bakale cilaka

Minggu, 21 Desember 2014

Cerita Wayang Abimanyu Kerem

ABIMANYU KEREM

Cerita ini berkaitan dengan banjaran Srikandi, yang dimulai Srikandi Meguru manah dan Srikandi Edan menjadikan Dewi Wara Sembadara cemburu, demikian pula dengan adanya  Srikandi Sayembara, yang pada puncaknya Arjuna menjadikan Srikandi sebagai istri barunya, hal ini menyebabkan Wara Sembadra sangat sakit hati, karena  dimadu oleh suaminya.

Dewi Sembadra meninggalkan Madukara dan meninggalkan juga Abimanyu yang masih kecil. Ia pergi ke Dwarawati mnenemui kakaknya Prabu Sri Batara Kresna, namun tidak ketemu. Wara Sembadra menyampaikan perasaannya kepada Pretiwanggana, adik ipar Prabu Kresna, adik dari Dewi Pretiwi, yang kebetulan berada di Dwarawati. Dari Dwarawati Wara Sembadra terus pergi tanpa ada yang tahu lagi kemana perginya.Kedatangan Wara Sembadra di Dwarawati, menyebabkan cinta Pretiwanggana bersemi lagi.

Pandawa terkejut, ketika semua senjata pusaka mereka hilang dari tempatnya. Prabu Punta Dewa kehilangan Kyai Tunggul Naga dan Kyai Karawelang. Beruntung sekali pusaka Kalimasada masih berada di dalam tubuh Prabu Puntadewa. Werkudara kehilangan senjata pusaka andalannya berupa gada Rujakpolo dan gada lukitasari. Sedangkan Arjuna, kehilangan semjata pusaka Pulanggeni, Sarotama,dan Ardadedali.

Prabu Puntadewa memasuki sanggar pamujan, Prabu Punta Dewa bersemadi mohon petunjuk dewata.

Demikian pula Werkudara yang telah kehilangan 2 buah pusaka andalannya, yaitu  Gada Rujakpolo dan Gada Lukitasari. meninggalkan Jodipati, mencari senjata pusakanya yang  hilang.

Sementara itu di Madukara, Arjuna dan Srikandi sedang membicarakan pusaka pusaka yang hilang, yaitu Pulanggeni,Ardadedali dan Sarotama. Yang mengherankan adalah Dewi Sembadra yang  pergi dari Madukara, tanpa memberitahu siapapun.  Belum selesai pembicaraannya, tiba tiba saja Pretiwanggana ipar Prabu Batara Kresna, yaitu adik Dewi Pretiwi, masuk kedalam kasatrian Madukara dengan marah marah. Pretiwanggana marah marah, akibat Wara Sembadra diterlantarkan oleh Arjuna, maka Wara Sembadra pergi dari kasatrian. Semua ini akibat Wara Sembadra telah dimadu oleh Arjuna, dengan mengawini Srikandi. Maka daripada di terlantarkan, Dewi Sembadra mau diminta dan mau di mulyakan menjadi istri Preti wanggana. Tanpa memberi kesempatan Arjuna membe la diri, Pretiwanggana menyerang dengan pusaka Nracabala yang sangat ampuh. Ratusan bahkan ribuan anak panah melesat dari panah Nracabala. Arjuna dan Wara Srikandi dengan mengemban Abimanyu kecil segera menyelamatkan diri dari amukan Pretiwang gana.

Keluar dari Kasatrian Madukara, Arjuna dan Srikandi bertemu dengan Gatutkaca yang sebenarnya mau menuju kesatrian Madukara. Gatutkaca ingin mengikuti pamannya kemana saja. Karena Gatutkaca kini tidak berdaya. Ia telah kehilangan semua senjata pusaka serta aji ajiannya.

Mereka sampai ditepinya sungai Bengawan. Mereka berhenti dan menenangkan pikiran. Sementara itu Abimanyu merengek rengek minta makan, ia lapar. Dewi Srikandi merasa kasihan kepada Abimanyu, ia akan mencari makanan untuk Abimanyu. Srikandi menyamar menjadi orang sudra, dan akan minta bantuan ke Istana Parangkencana. Ia mengganti nama dengan nama Kleting Binatur.Didalam perjalanan menuju Istana Parangkencana, Srikandi bertemu dengn Pretiwanggana, ia dikejar kejar. Srikandi walaupun seorang wanita, ia wanita perajurit. Dengan tipu dayanya maka Pretiwanggana kehilangan buruannya. Kleting Binatur sampai di Istana Parangkencana. Srikandi mohon perlindungan kepada Prabu Jayabadra. Kleting Binatur takut, ada orang gila mengejar ngejar dan mau membunuhnya.Prabu Jayabadra memperbolehkan Kleting Binatur tinggal sementara di Istana Parangkencana. Nanti kalau keadaan sudah reda, Kleting Binatur bisa pulang kembali.

Sementara itu Arjuna termangu mangu menunggu Srikandi.Abimanyu terus merengek rengek minta makan. Arjuna tidak tahan mendengar tangisan Abimanyu, ia segera pergi mencari makanan untuk Abimanyu. Arjuna juga akan pergi ke Istana Parangkencana.Sebelum pergi Arjuna berpesan kepada Gatutkaca, untuk momong Abimanyu, dan tidak boleh meninggalkan tempat. Lama pula Gatutkaca dan Abimanyu menunggu Arjuna atau bibinya Wara Srikandi, mereka tidak pulang pulang.

Gatutkaca menjadi panik ketika dilihatnya, Abimanyu lemas, dan pucat. Sedangkan Abimanyu terus merengek rengek minta makan. Gatutkaca mencoba menenangkan Abimanyu, namun Abimanyu sudah tak tahan lagi. Abimanyu minta menyusul saja, Abimanyu minta menyeberang sungai Bengawan. Gatutkaca hanya bisa menangis dalam hati. Ia hanya bisa merenungi nasibnya. Gatutkaca kehilangan pusaka dan semua aji ajiannya, sehingga ia tidak bisa terbang. Akhirnya Gatutkacapun menyeberangkan Abimanyu. Di gendongnya Abimanyu,kemudian Gatutkaca melangkah selangkah demi selangkah, melangkahkan kakinya ke dalam sungai Bengawan yang dalam. Gatutkaca semakin lama semakin tenggelam. Semula semata kaki, kemudian selutut, sepusar, dan kini setinggi dada.Gatutkaca ragu dan ingin kembali, tetapi ombak sangat besar. Sementara ombak semakin besar. Gatutkaca semakin lemas, semakin lemah, semakin tidak berdaya, dan sial bagi Gatutkaca, batu batuan yang menjadi pijakan kakinya, merosot kedalam dasar sungai, Gatutkaca terperosok dan kehilangan keseimbangan, ditambah hantaman ombak besar ke tubuhnya, sehingga Gatutkaca tenggelam kedalam sungai Bengawan. Abimanyu terlepas dari gendongan. Abimanyu tenggelam !!!, Abimanyu tenggelam ke dasar sungai Bengawan. Gatutkaca menjadi panik, sungai dikuber, hingga airnya berputar putar. Air bawah sungai naik, membawa Abimanyu semakin jauh dari wilayah Indraprasta.Gatutkaca berenang menuju seberang sungai Bengawan.

Sesampai diseberang sungai, Gatutkaca gereng gereng ingin melampus diri. Gatutkaca menangisi Abimanyu, Gatutkaca berkali kali membenturkan kepalanya di disebuah batu karang. Darah bercuucuran dari muka Gatutkaca,  Tetapi bagaimana dengan Abimanyu nanti, kalau ia mati. Akhirnya Gatutkaca dengan hati yang sedih mencari pamannya. Gatutkaca menemukan pamannya sedang duduk terpekur, seperti ada beban berat dalam  hatinya. Gatutkaca menubruk pamannya dengan menangis tersedu sedu. Ia minta pamannya membunuhnya. Arjuna semakin tidak kuasa menahan dirinya, setelah mengetahui Abimanyu tenggelam di sungai Bengawan. Ia tak sadarkan diri. Gatutkaca menjaga pamannya yang sedang pingsan. Tiada lama akemudian Arjuna terbangun, dan bagaikan orang ngengleng, Arjuna sambat memelas asih, ia mengharapkan datang dewa penjabut nyawa, untuk menyendal mayang sukma Arjuna. Setelah tersadar dari kesedihan Arjuna dan Gatutkaca pergi ke Istana Parangkencana untuk minta bantuan Raja Jayabadra.

Sementara Arjuna dan Gatutkaca berangkat ke istana Prangkencana. Di tepi sungai Bengawan ada dua orang nelayan yang sedang menjala ikan.Tidak lama kemudian salah satu nelayan menemukan sesuatu. Jaringnya ketika diangkat berat sekali. Setelah ditarik sampai kedaratan, ternyata di dalam jala terdapat ada seorang anak kecil yang kondisinya tidak sadarkan diri.

Melihat baju yang dipakai anak itu serba gemerlap. serba emas, mereka memperkirakan anak itu anak raja. Kemudian mereka dengan membawa anak itu, berlari menuju istana Parangkencana.

Sementara itu di Istana Parangkencana, Prabu Jayabadra, yang dihadap Patih Lukitasari, serta para punggawa,seperti Ardadedali, Sarotama, Karawelang, Eyang Tunggul Naga serta para punggawa yang lain, masih membicarakan peningkatan kesejahteraan rakyatnya.

Tiba tiba datang nelayan melaporkan temuannya. Prabu Jayabadra menerima anak itu dengan senang hati. Prabu Jayabadra mengenal anak itu. Ia Abimanyu putera Wara Sembadra dengan Arjuna.Namun ketika diraba dahinya, sangat dingin, dan tidak sadarkan diri. Prabu Jayabadra meminta Eyang Tunggul Naga mengobati Abimanyu dari pingsannya.

Eyang Tunggul Naga, segera bersemadi minta anugerah Dewata. Eyang Tunggul Naga memanggil pusaka Wijayakusuma milik Prabu Sri Batara Kresna. Pusaka Wijayakusuma dalam waktu sekejap sudah ditangan Eyang Tunggul Naga,dengan Pusaka Wijayakusuma,  Abimanyu bangun dari pingsannya. Abimanyu sehat kembali. Pusaka Wijayakusuma dikembalikan kepada Prabu Ktesna. Prabu Kresna tahu siapakah yang meminjam pusaka Wijayakusuma. Maka Prabu Kresna segera terbang ke Kerajaan Parang kencana.Sementyara Abimanyu sudah sehat kembali, Prabu Jayabadra meminta Kleting Binatur yang ngemong Abimanyu. Kleting Binatur menyanggupinya.

Kemudian Arjuna dan Gatutkaca sampai pula di Istana Parangkencana. Mereka minta perlindungan dari amukan Pretiwanggana. Arjuna mmenceriterakan, kalau Pretingwanggana ingin merebut dewi Sembadra dari Arjuna, sehingga ia dikejar kejar olehnya, dan Abimanyu menjadi korbannya, Abimanyu tenggelam dalam sungai Bengawan. Mendengar itu, Prabu Jayabadra merasakan kesedihannya. Prabu Jayabadra meminta Arjuna dan Gatutkaca dipersilakan masuk ke dalam Istana, dan menemui Kleting Binatur, Abimanyu ada bersamanya. Arjuna dan Gatutkaca merasa senang sekali mendengar berita baik ini.

Tiada antara lama kemudian, datanglah Pretiwanggana yang akan menangkap Srikandi dan Arjuna. Prabu Jayabadra segera memerintahkan para senapati Parangkencana, Ardadedali, Sarotama dan Antakusuma, segera keluar istana. Terjadilah pertarungan antara mereka. Pretiwanggana merasa tidak kuat menahan serangan mereka, ia lari meninggalkan gelanggang pertarungan.

Arjuna menyampaikan terimakasih atas bantuan sang Prabu Jajabadra. Mereka bermaksud pamit pulang ke Madukara. Prabu Jayabadra mempersilakan Arjuna, Gatutkaca dan Kleting Binatur pulang, namun Prabu Jayabadra tidak memperbolehkan membawa Abimanyu. Abimanyu akan diasuh Prabu Jayabadra. Arjuna terkejut. Terpaksa Arjuna melawan Prabu Jayabadra. Prabu Jayabadra mengajak bertanding diluar istana. Sementara mereka bertarung, Abimanyu dibawa Arya Ardadedali, Sedangkan Sarotama dan para punggawa lain, menggeroyok Gatutkaca dan Kleting Binatur.

Tiada lama kemudian, Prabu Kresna tiba di Parangkencaana, disusul kedatangan Werkudara dan Prabu Puntadewa di tempat peperangan. Krtika itu Arjuna merasa kewalahan melawan Prabu Jayabadra. Arjuna mundur dari pertarungan, dan mendatangi Prabu Kresna. Prabu Kresna meminta Arjuna sabar  saja. Prabu Jayabadra jangan di lawan dengan kekerasan sambutlah ia bagaikan bertemu dengan istrinya sendiri, rayulah Prabu Jayabadra. Dalam waktu tak lama, Prabu Jayabadra telah berubah kembali menjadi Dewi Sembadra. Arjuna merasa senang bisa berjumpa lagi dengan isterinya, Wara Sembadra.

Prabu Kresna masih menghadapi hal yang pelik, karena justru bawahan Prabu Jayabadra ini orang orang yang sangat sakti. Hanya Prabu Puntadewa, yang bisa mengalahkannya. Prabu Puntadewa menyatakan penyesalannya, ia tidak bisa berperang, ia tidak bisa membunuh musuh, ia lebih baik mati dibunuh musuh. Tiba tiba saja, ada sesosok mahluk keluar dari tubuh Prabu Puntadewa. Ternyata Sukma Prabu Kalimantara, penjaga Jimat Kalimusada. Ia minta restu prabu Puntadewa, untuk mengalahkan para kesatria Parangkencana. Terjadi perkelahian hebat antara Prabu Kalimantara dengan para punggawanya sewaktu di Cempaka Kawedar. Sementara itu Srikandi menyerang Arya Ardadedali yang menyekap Abimanyu. Srikandi bisa mengambil Abimanyu dari tangan Ardadedali, namun ia tertangkap oleh Ardadedali, ia di ajar mati matian  oleh Arya Ardadedali, namun Srikandi melindungi Abimanyu dengan memeluk Abimanyu kecil dari pukulan Ardadedali.

Wara Sembadra kagum pada Srikandi yang berjuang demi keselamatan puteranya. Sedikit demi sedikit menghilangkan rasa kecemburuannya pada Srikandi.. Prabu Kalimantara akhirnya dapat mengalahkan mereka, mereka kembali menjadi pusaka para Pandawa, Karawelang dan Tunggul Naga kembali ke Prabu Puntadewa, dan Prabu Kalimantara juga kembali masuk  dalam raga Prabu Puntadewa. sedangkan Lukitasari dan Rujakpolo kembali ke tangan Werkudara, sedangkan senjata Sarotama, Pulanggeni kembali ke tangan Arjuna.Antakusuma kembali ke Gatutkaca, kembalinya Pusaka Antakusuma, kembali pula seluruh aji ajiannya yang pergi karena tidak ada Antakusuma, sebagi pelindungnya. Sedangkan Ardadedali ketika bertarung dengan Srikandi, kembali menjadi pusaka, dan jatuh ketangan Srikandi. Maka sejak itu senjata pusaka Ardadedali diberikan kepada Srikandi, dan sekaligus Srikandi menjadi prajurit wanita, yang ditugaskan sebagai  penanggung jawab atas keamanan dan keselamatan kaputren dan tamansari kasatrian  Madukara.Setelah semua permasalahan dapat diselesaikan, Wara Sembadra menyerahkan kekuasaan Kerajaan Parangkencana, kembali kepada Prabu Jayasentika. 

Akhirnya, Prabu Kresna, Prabu Puntadewa, Werkudara Arjuna Dewi Wara Sembadra, Dewi Wara Srikandi serta Abimanyu dan Gatutkaca kembali ke negeri ma sing  masing. Gatutkaca sudah bisa terbang kembali ke Pringgadani



Naskah wayang Karna Tanding

Karna Tanding

Ing wiwitanipun, Dhalang ngedalaken wayang Durna,Werkudara, Kresna, Petruk, lan Bagong.

Bismillahi tawakalna bismillah dulwaki padha dulwakane, iki purwa lilahing cerita hangeber jati. Duuh guguh Gusti anggadhahi mring awuh hari.

Surak-surak manengker gumuruh
Surak-surak manengker gumuruh
Swaraning wadya
Surak gambira
Unggul Bharatayuda
Para Pandhawa
Labuh nagara
Astina balane
Kurawa gugur
Madyaning palagan
Pandhawa Pandhawa Pandhawa
Kudu  bisa menangi perang Baharatayuda
O o o o o o o o o o o o
Baratayuda Jayabinangun
O o o o o o o o o o o o
Baratayuda Jayabinangun

1.                  Durna
Thole ole sukalela kempol manyar – manyar. He para wadya Kurawa, aja wedi kangelan, senapati Durna ingkang bakal mrantasi karya. Ayo Pandhawa maju tampanana pusakaning Durna.

Ruhing ruhing
O o o o o o o o o o o o

Werkudara ngrembug kahanan perang Bharatayuda ingkang nembe kalakon.

2.  Kresna
Yayi Werkudara.
3. Werkudara
Wa, jilitheng Kresna kakang iki.
4. Kresna
Barisane para Pandhawa. Barisane pesanggahan Gupalawiya, mendelong 17 m dalane.
5.  Wekudara
Wa, tantange guru Durna ngedab – edabi. Aku jaluk widi palilah karo kowe jilitheng kakangku.
6.Kresna
Nggo ngapa ?
7. Werkudara
Barisane bapa Durna tak trajange nganggo gada rujakpala.
8. Kresna
Hush, ngawur ! Perang Baratayuda kuwi dudu perang ampyak awur-awur paduwani. Bharatayuda kuwi mawa petung sing tenanan. Pandhawa dikumpulake aneng TegalKurusetra sakJawa Tengah dikumpulake aneng ngarep gedung wakil rakyat kuwi mawa petung ora mung ampyak awur – awur janji mangkat, bosok utekmu.
 Werkudara
Ya, jaluk ngapurane.
10.  Petruk
Yen dikumpulake ngene iki sangu dhewe kok.
11.  Bagong
Cerewet, wis siap aku.
12.  Petruk
Dibayar mung separo ya mangkat.
13.  Bagong
Siap.
14.  Petruk
Ya.
15.  Bagong
Wis ta wangu – wangu dhuwur konglomerat pejabat – pejabat kalahe karo wong nekad.
16.  Petruk
Ya.
17.  Bagong
Ora disangoni ora diapake do ngumpul nglumpuk kuwi batine ijek murni – murni.
18.  Petruk
Ya.
19.  Bagong
Angkara murka wedine karo wong sing bersatu.

20.  Petruk
Ya.
21.  Bagong
Aja nganti gendheng ceweng.
22.  Petruk
Ya.
23.  Bagong
Perkara ketua wae kok ribut, tujuane ya sing penting ana ketua harian, ana ketua mingguan, ana ketua ora mingguan, ketua bulanan, ngono kuwi.
24.  Petruk
Ya.
25.  Werkudara
Aku jaluk eguh pertiker carane Durna gugur.
26.  Kresna
Bagus.
27.  Kresna
Rungokake.
28.  Werkudara
Ya.
29.  Kresna
Sing waspading tingal mor gageenggal ngulaten sisi kulon kae.
30.  Kresna
Kowe weruh sing aning kulon kae sapa ?

31.  Werkudara
Kae Petruk karo Bagong.
32.  Kresna
Jiaja laknat, kowe lunga wong elek.
33.  Petruk
Ora muni – muni sing mau, kowe ya ora ngelingake.
34.  Bagong
Padha – padha mangkat ya ora ana sangune kok.
35.  Petruk
Kowe dadi lurah meh rong taun meneh Gong.
36.  Bagong
Jaluk perpanjangan.
37.  Petruk
iya, iki undang – undange lagi digodhok.
38.  Bagong
Yen ora mateng – mateng ya demo maneh.
39.  Petruk
Demo sing arep teka?
40.  Bagong
Lurah – lurah parade nusantara kon do wuda.
41.  Petruk
Ngawur.
42.  Kresna
Kae ana narendra ingkang melu ampyak awur – awur Narendra tanggul angin jenenge prabu Premeya.
43.  Werkudara
Wa, sing numpak gajah gawa karung pirang – pirang ?
44.  Kresna
Ya kae melu Bharatayuda Jayabinagun nanging ora melu belani kurawa ora belani Pandhawa.
45.  Werkudara
Ora belani Kurawa ora belani Pandhawa.
46.  Kresna
Maju peperangan kae Kurawa ya gething, barisane Pandhawa apa maneh sebab prabu Premeya.
47.  Werkudara
Srengengene kok byar pet.
48.  Kresna
Lha iki mau ana mendhung liwat.
49.   Werkudara
La ngapa nggawa karung ?
50.  Kresna
Prabu Premeya ki ora melu Pandhawa ora melu Kurawa mlebu aneng Bharatayuda Jayabinangun kuwi goleki potolane gaman, goleki potolaning topong kencana, topong berliyan sajan wis kutah getih digawa mulih, emase karo berliyane dikleteki kanggo pesugihan.

51.  Kresna
Gajahe kae jenenge gajah Hastitama.
52.  Werkudara
Gajah Hastitama ?
53.  Kresna
Ya.
54.  Werkudara
Aku kon ngapa ?
55.  Kresna
Werkudara njangkaha sepisan kepruken nganggo gada rujakpala, prabu Premeya sagajahe kudu mati.
56.  Werkudara
Kena apa gajahe kudu mati ?
57.  Kresna
Gajah kae jenenge gajah Hastitama, nawur laku karo Haswatama.
58.  Werkudara
Haswatama anak Durna ?
59.  Kresna
Bener, sebab kowe tak kandani ya Werkudara, pandhita Durna maju peperangan kae saktemene atine gempung. Atine gempung mergane apa ? murid – muride ora metungake Pandhawa Kurawa pada peperangan aneng Palagan Kurusetra. Nanging kena apa pandhita Durna tetep dadi senopati neng Kurawa mergane pandhita Durna kuwi arep goleke kamukten anake kang jenenge Bambang Haswatama.


60.  Werkudara
Sakwise aku mateni prabu Premeya karo gajah Hastitama.
61.  Kresna
Pun kakang bakal alok aneng madyaning Palagan Kurusetra sanajan pun kakang dedege cendhek. Dedege cendhek nanging yen perkara bengok pun kakang iki sora ora usah nganggo pengeras suara.
62.  Petruk
Langite ya ketap – ketip wae.
63.  Werkudara
Wa, kudu alok Haswatama mati.
64.  Kresna
Ya, kumyur penggalihe Bagawan Durna ing kana dadi gugure gurumu.
65.  Werkudara 
Ya jaluk tambahing pangestu.
66.  Kresna
Sing ati – ati iki kudu guyonan Werkudara.

(Werkudara perang tandhing karo Aswatama. Aswatama anake Durna nitih gajah jenenge Hestitama)



67.  Duryudana
Aswatama mati! Aswatama mati! Aswatama mati!
68.  Petruk
Aswatama mati. Aswatama mati.
69.  Duryudana
Sing seru goblok.
70.  Petruk
Anggota DPRe mati.
71.  Duryudana
Aswatama.
72.  Petruk
Haswatama mati,Haswatama mati.
73.  Bagong
Asu mati.
74.  Petruk
Heh, Haswatama mati.
75.  Durna
Haswatama bangka, ana kabar apa ? haswatama mati ? aduh ngger anakku Haswatama. Haswatama......
Aku iki won tuwane Haswatama. Haswatama, kowe anaku yen pancen mati krasa atiku. Atiku iki ijek nambang rada semu ora percaya tak takon Pandhawa.
76.  Kresna
Kula wus raosaken kados paman Durna.                          
77.  Durna
Lo le lo le, sang prabu Kresna.
78.  Kresna
Wonten menapa ?
79.  Durna
Kabar geger maneher gemuruh wonten madyaning Palagan Kurusetra ngabahaken pun anak kula Bambang Haswatama menika pejah leres menapa boten ?
80.  Kresna
Inggih, pancen na Haswatama mati paman Durna.
81.  Durna
Ash, ora ngandel, Kresna ki tukang apus – apus, ahli politik, uteke bosok ya Kresna, ora ngandel aku.
82.  Durna
Ho, anakku ngger Arjuna.
Anakku sing tak tresnani ngger Arjuna.
83.  Arjuna
Wonten dhawuh timbalan bapa panembanDurna.
84.  Durna
Werkudara.
85.  Werkudara
Wa, Durna bapak kuwi.

86.  Durna
Adhimu Haswatama mati, bener ?
87.  Werkudara
Kados pundi bapa ?
88.  Durna
Haswatama mati ?
89.  Arjuna
Inggih, kula turi taken kakang Werkudara.
90.  Durna
Haswatama mati ngger.
91.  Werkudara
Takona Arjuna.
92.  Durna
Haswatama mati ngger.
93.  Arjuna
Taken kakang Werkudara.
94.  Werkudara
Takona dhimas Arjuna.
95.  Durna
E... wakil rakyat kok ora duwe panemu, wakil rakyat kok limpa – limpe kaya lonte.
96.  Petruk
Haswatama mati ?
97.  Durna
Aja colak – colek, ana apa kowe Petruk nyegat lakuku.

98.  Petruk
Haswatama mati niku.
99.  Durna
      Wa, ora ngandel cangkemu bosok,hm.
100.          Petruk
Ngandel kula, kula niki boten kok kula niki garah.
101.          Durna
Was, kowe ya kaya wong politik biasa kowe. Nak pertama arep maju janjine muluk – muluk karo rakyat. Mengko nak wis dadi lali, minggat-minggatana.
102.          Petruk
      Haswatama mati.
103.          Durna
      Ora ngandel.
104.          Bagong
      Tenang.
105.          Durna
      Haswatama mati bener Bagong ?
106.          Bagong
      Kleru, salah.
107.          Durna
Alhamdulillah, Punakawan - punakawan Bagong mung kowe wong kang jujur.


108.          Bagong
Jujur kacang ijo. Haswatama ki maune boten mas mbah.
109.          Durna
      Ora mati piye ?
110.          Bagong
Ramene Baratayuda Jayabinangun, Haswatama niku kekeselen.
111.          Durna
      Melu perang.
112.          Bagong
Inggih, Bos Haswatama kekeselen. Haswatama ngletak ing pinggire wit randu alas.
113.          Durna
      Turu.
114.          Bagong
Boten ngerti, ngletak dumadakan wonten jaran lewat, la sikile jaran mau ngidak pring silane Haswatama bledhos, modar.
115.          Durna
      Bajingan kowe rumangsaku iki.
116.          Arjuna
Kanjeng kaka prabu Sri Batara Kresna, merbeki dhumateng ingkang rayi kula Puntadewa.
117.          Kresna
Yayi, Baratayuda Jayabinangun menika dinten iki sampun rampung dipuntemtokaken anggenipun paduka yayi prabu badhe mangsuli dhumateng pitakenanipun bapa pandhita Durna.
118.          Arjuna
      Babagan menapa kaka prabu ?
119.          Kresna
Gajah Hastitama dipunpejahi kaliyan ingkang rayi Werkudara piguna buyaraken dhumateng angen – angen ing pandhita Durna para wadya babi sami alok menawi Hastitama menika kasamur ingkang kapireng boten sanes nemu kajawi Haswatama mati, Haswatama mati.
120.          Arjuna
Kamangka ingkang pejahmenika sanes Haswatama ingkang pejah menika gajah Hastitama.
121.          Kresna
Kong kok gemlodang men ta, gender nika. O malah ayah nak gender aja gawa ali – ali, dicopot.
122.          Arjuna
Bharatayuda Jayabinangun ingkang tumplah blah wonten ing padang Kurusetra kancingipun kantun Puntadewa ingkang saklaminipun rumitah boten nate goroh, kula boten saged ngandakake Haswatama mati yen sing mati gajah Hastitama.

123.          Kresna
Yayi sepindah kemawon menika menawi pandhita Durna pitaken Haswatama mati paduka sampun ngambali Haswatama mati nanging paduka wangsulana, inggih ngoten.
124.          Arjuna
Kula menika sanes lare TK boten usah dipundekte menapa kemenangan luhur menawi kemenangan kanthi geroh.
125.          Kresna
Ha, ya wis lah yayi. Mangsa baranga menang kena ora ya kena Bharatayuda.
126.          Durna
      Gangga ngger, gangga ngger.
127.          Durna
Ee, anakku ngger Puntadewa luman jagad kurbing langit boten wonten titah ngarcapada ingkang kagungan getih putih namung kajawi paduka anak ngger.
128.          Puntadewa
      Inggih wonten punapa Bapa Durna
129.          Durna
Geger meneher gemuruh swara ta arebah wadya bala Gupalawiya ngabaraken menawi Haswatama menika mati.


130.          Kresna
Menika Bharatayuda yayi prabu, kemenanganipun Pandhawa menika lan kawonipun.
131.          Puntadewa
Gumantung paduka yayi, kula aturi diem kaka prabu.
132.          Kresna
Oo, inggih diem menika emas nggih kula badhe ngapurancam kemawon.
133.          Durna
      Kresna ora usah melu – melu.
134.          Kresna
      Boten, boten.
135.          Petruk
      Reng reng.
136.          Gareng
Nun, panjenengan boten taken kalih kula yen Haswatama mati apa ora.
137.          Durna
      Ora kanggo, wis emoh aku.
Ora ana swarane, yen mangkat ora tau sangu dhewe. Senengane ngrepoti kancane, mulih jaluk sangu, nek kowe kuwi bangsane monyet. Haswatama pejah ngger?
138.          Puntadewa
      Inggih bapa.
139.          Durna
      Aduh! Mati aku.

  o o o o o o o o o o o

140.          Kresna
      Selamat inggih yayi.
141.          Puntadewa
Wong goroh dislameti, wong jujur malah disiya-siya. Duh jagad badhe ngalami menapa kaka prabu.


O o o o o o o o o o o o
O o o o o o o o o o o o
O o o o o o o o o o o o
Presiden o presiden
Rakyat alit
Penggalihe raos sang resi
Pandita Durna langkat
Kembang kinkin
Lan tanpa daya
Nugrahing driya

142.          Durna
Duh, jagad Dewa Batara wus tanpa guna. pandhita Durna ngayahi Bharatayuda Jayawinangun titah ingkang tak dama – dama muridku Puntadewa kena apa menika Durna wani ngadheg senapati ngrangkahi Negara Ngastina kamangka Durna ngerti kalamahan ambegedusi candela dumunung ananging nagara Ngastina nanging saiki dumadine ora kaya angen – angenku. Gela rasaning atiku muspa ora ana gunane pandhita Durna ngayahi Baratayuda Jayabinangun. Tak selehake langganiku ora sudi wis ora sudi, ora ana wong jujur tumimpang ing bumi iki.
143.          Narendra Parang
Pandhita Durna, aku Narendra Parang gelung alukat maut ganti pusakaku kanthi srana kowe tanganku nganti tugel minangka dalan pasiku Durna dina iki wis telas tuliswi  wis entek uripmu nanging yen ora bareng nglawan sing jenenge ingsun ya mung kowe biyen kang minangka dadi pujaan ya kuwi Durna kang minangka dadi guru batinku kowe ora bakal bisa weruh lawange swarga yen ora tak tuntun dening Bambang Ekalaya. Ya Senapati Tresta Jumena kowe kang minangka sarana tugelen gulune Pandhita Durna.
144.          Senapati Tresta Jumena
      Mati Pandhita Durna kowe.


Aowe eowa aowe eowa
Ana tangis layung-layung
Layung hayung
Tangise wong
Mecah ati

145.          Duryudana
Bapa Durna, bapa Durna inten babar pindah paduka seda mustakanipun kangge bal – balan paman Sengkuni.
146.          Sengkuni
      Wonten dhawuh sang prabu Duryudana.
147.          Duryudana
Tulung sutilasa atiku yen aku durung bisa males kiwul sedane sang senapati guru Durna.
148.          Sengkuni
Sinuwun, srengengene sampun lingsir mangiten kasepakatan Bharatayuda Jayabinangun benjang badhe dipunwiwiti malih menawi pajar sampun sumingsir, menawi Sang Hyang mentari sampun madangi ing bambang wetan, sinuwun.

            Reng-renging swarane dwi angkara kingkin
Lir manguswa kang nglayung



149.          Durna
Bapa Durna, kula ngaturaken gunging panuwun ingkang tanpa pepindahan dinten samangkih kula samektakaken upacara ageng – agengan minangka kangge tanda yekti pisungsung kula dhumateng senapati Agung.
150.          Kurawa
      Ya ya.
151.          Sengkuni
Hush! Ana wong berduka cita ya ya mangsamu iki budhalan apa piye ?

Mungguh sang Sri
Para nawa
Menggah sini walapa
Ingkang depa
Rana yaca
Rahana diwa santaka
Wahurta 
Prabu Duryudana wunyah
Jroning driya
Tan dalindir seba nira
Sang resi pandita Durna
Nadyan cengkang Baratayuda
Pandhawa lawan Kurawa
Tan sinedya Baratayuda
Kurawa surya nalaka
Datan kinkin sajroning pesanggrahan
Datan ana tan wani nyabawa
Mung tansah hanengga dhawuh

Saking santaka