Tampilkan postingan dengan label wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wayang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Januari 2015

Pesindhen

Pesindhén, atau sindhén (dari Bahasa Jawa) adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan, umumnya sebagai penyanyi satu-satunya. Pesindén yang baik harus mempunyai kemampuan komunikasi yang luas dan keahlian vokal yang baik serta kemampuan untuk menyanyikan tembang.
Pesinden juga sering disebut sinden, menurut Ki Mujoko Joko Raharjo berasal dari kata "pasindhian" yang berarti yang kaya akan lagu atau yang melagukan (melantunkan lagu). Sinden juga disebut waranggana "wara" berarti seseorang berjenis kelamin wanita, dan "anggana" berarti sendiri. Pada zaman dahulu waranggana adalah satu-satunya wanita dalam panggung pergelaran wayang ataupun pentas klenengan. Sinden memang seorang wanita yang menyanyi sesuai dengan gendhing yang di sajikan baik dalam klenengan maupun pergelaran wayang. Istilah sinden juga digunakan untuk menyebut hal yang sama di beberapa daerah seperti Banyumas, Yogyakarta, Sunda, Jawa Timur dan daerah lainnya, yang berhubungan dengan pergelaran wayang maupun klenengan. Sinden tidak hanya tampil solo (satu orang) dalam pergelaran tetapi untuk saat ini pada pertunjukan wayang bisa mencapai delapan hingga sepuluh orang bahkan lebih untuk pergelaran yang sifatnya spektakuler.
Seorang sinden dari Solo
Pada pergelaran wayang zaman dulu, Sinden duduk di belakang Dalang, tepatnya di belakang tukang gender dan di depan tukang Kendhang. Hanya seorang diri dan biasanya istri dari Dalangnya ataupun salah satu pengrawit dalam pergelaran tersebut. Tetapi seiring perkembangan zaman, terutama di era Ki Narto Sabdho yang melakukan berbagai pengembangan, Sindén dialihkan tempatnya menghadap ke penonton tepatnya di sebelah kanan Dalang membelakangi simpingan wayang dengan jumlah lebih dari dua orang.
Di era modern sekarang ini Sindén mendapatkan posisi yang hampir sama dengan artis penyanyi campursari, bahkan sindén tidak hanya dibutuhkan untuk mahir dalam menyajikan lagu tetapi juga harus menjaga penampilan, dengan berpakaian yang rapi dan menarik. Sindén tidak jarang menjadi "pepasren" (penghias) sebuah panggung pertunjukan wayang. Bila Sindénnya cantik-cantik dan muda yang nonton akan lebih kerasan dalam menikmati pertunjukan wayang. Perkembangan wayang saat ini bahkan Sindén tidak hanya didominasi wanita tetapi telah muncul beberapa orang Sindén laki-laki yang mempunyai suara merdu seperti wanita, tetapi dalam dandannya sindén ini tetap memakai pakaian adat jawa selayaknya pengrawit pria lainnya dan beberapa waktu lalu sindén laki-laki ini malah menjadi trend para Dalang untuk menghasilkan nilai lebih pada pergelarannya.

Ranjapan Abimanyu / Abimanyu Gugur


 
Nggemprang Kuda Pramugari  bagai lari kijang dengan meninggalkan debu mengepul diudara. Gerak lajunya bagai tak menapak tanah. Tak lama Abimanyu sudah ada dihadapan Prabu Kresna dan Raden Trustajumna.

“Anakku yang bagus, sudah datang kiranya disini. Aku minta tenagamu kali ini, ngger !” sapa Prabu Kresna. Hatinya bergolak antara rasa tak tega kepada sang menantu menyongsong kematian atau membiarkannya maju memperbaiki formasi baris. Tetapi isi kitab jalan certita Baratayuda, Jitapsara di dalam ingatannya, membawanya mengatur laku apa yang seharusnya terjadi. Isi kitab itu lebih berpengaruh dalam benaknya.

Bersembah Abimanyu kehadapan ayah mertua, juga uwaknya,

“ Sembah bektiku saya berikan keharibaan uwa prabu. Bahagia rasanya dapat terlibat dalam perkara yang sedang menggayuti para orang tua orang tua kami”
 
“Baiklah, karena rusaknya barisan Hupalawiya sudah sangat parah, sekaranglah saatnya bagimu anakku, untuk membereskan kembali barisan dan gantilah dengan tata gelar baru”. Perintah sang uwa

“Uwa prabu, saya minta gelar apapun yang hendak dibangun, perkenankan saya untuk ditempatkan pada garda depan”. Pinta Abimanyu
“Yayi Drestajumna, apa gelar yang hendak kamu bangun?” Kembali Prabu Kresna menegaskan kepada Raden Drestajumna.

“Kiranya yang cocok dengan keadaan saat ini adalah Supit Urang, atas permintaan anakmas Abimanyu, kami tempatkan kamu dalam posisi sungut !”. Demikian putusan Sang Senapati.

Segera, dengan sandi, dikumandangkan, para prajurit yang sudah kocar kacir perlahan lahan membentuk diri lagi. Drestajumna menempati capit kiri sedangkan Gatutkaca ada pada sisi capit kanan. Arya Setyaki ada pada bagian kepala, sedangkan pada ekor adalah Wara Srikandi.

Perlahan namun pasti, barisan Pandawa Mandalayuda dapat kembali solid. Demikian besar pengaruh kedatangan Abimanyu dalam membuat tegak kepala para prajurit Randuwatangan. Amukan Abimanyu diatas punggung kuda Pramugari, bagaikan banteng terluka. Kuda tunggangan Abimanyu yang bagai mengerti segenap kemauan penunggangnya, berkelebat mengatasi musuh yang mengurung. Gerakannya gesit bagai sambaran burung sikatan. Olah panah yang dimiliki penungangnya  untuk menumpas musuh dari jarak jauh, dan keris Pulanggeni untuk merobohkan musuh didekatnya  tak lama membawa puluhan korban. Tak kurang beberapa orang Kurawa seperti Citraksi, Citradirgantara, Yutayuta, Darmayuda, Durgapati, Surasudirga dan banyak lagi, telah tewas. Bahkan Arya Dursasana yang hendak meringkus terkena panah Abimanyu. Walaupun tidak tedas, namun kerasnya pukulan anak panah menjadikannya ia muntah darah. Lari tunggang langgang Arya Dursasana menjauhi palagan.

Haswaketu yang mencoba menandingi kesaktian Abimanyu, tewas tersambar Kyai Pulanggeni warisan sang ayah, Arjuna. Raungan kesakitan berkumandang dari mulut Haswaketu membuat jeri kawannya, Prabu Wrahatbala dari Kusala.

Namun, malu Wrahatbala, bila diketahui perasaanya oleh kawan maupun lawan, ia terus maju mendekati Abimanyu. Sekarang keduanya telah berhadapan. Gerakan Wrahatbala gagap, kalah wibawa dengan Abimanyu yang masih sangat muda, tetapi dengan gagah berani telah mampu memulihkan kekuatan barisan dan bahkan telah menewaskan ratusan prajurit dalam waktu singkat. Oleh rasa yang sudah kadung rendah diri, gerakannya menjadi serba canggung. Tak lama ia menyusul temannya dari Kamboja terkena oleh  pusaka yang sama. Tersambar Kyai Pulanggeni, raga Wrahatbala roboh tertelungkup diatas kudanya dan tak lama jatuh bergelimpang ke tanah.

Namun bukan dari pihak Bulupitu saja yang tewas, ketika Bambang Sumitra yang maju bersama Abimanyu dengan amukannya, terlihat oleh Adipati Karna. Niat Adipati Karna sebenarnya hanya mengusir anak Arjuna agar tidak maju terlalu ketengah dalam pertempuran. Perasaan seorang paman terhadap keponakannya kadang masih menggelayuti hatinya. Teriakannya untuk mengusir keponakannya tak dihiraukan, maka lepas anak panah menuju ke kedua satria anak Arjuna. Abimanyu luput namun Sumitra terkena didadanya. Gugurlah salah satu lagi putra Arjuna.

  Bambang Sumitra
Dibagian lain juga terjadi hal yang sama, Bambang Wilugangga terkena panah Prabu Salya rebah menjadi kusuma negara.
Sementara itu, para raja seberang, ketika melihat dua raja telah tewas dalam waktu singkat menjadi jeri. Mahameya mendekati salah satu temannya Swarcas, membisikkan strategi bagaimana cara menjatuhkan Abimanyu. Ditetapkan kemudian mereka berempat, Mahameya, Swarcas, Satrujaya dan Suryabasa akan maju bersama mengeroyok Abimanyu. Tak peduli hal itu tindakan ksatria atau tidak, yang penting mereka dapat menghabisi tenaga baru yang berhasil memukul balik kekuatan baris para Kurawa.

Namun bukan Abimanyu bila tidak mampu mengatasi serangan empat raja sakti dari berbagai penjuru. Licin bagai belut, Abimanyu menghindari serangan bergelombang dengan senjata ditangan masing masing lawannya. Bahkan sesekali Abimanyu dapat mengenai pertahanan mereka satu persatu. Makin gemas ke empat lawannya yang malah bagai dipedayai.

Kelihatanlah kekuatan masing masing pihak, tak lama kemudian.

Ketika pedang Mahameya terpental karena lengannya terpukul Abimanyu, sebab dari rasa kesemutan yang hebat memaksa ia melepaskan pedangnya. Pada saat itulah Kyai Pulanggeni menusuk lambungnya. Kembali satu lawan roboh dari atas punggung kudanya. Tiga lawan tersisa menjadi ciut nyalinya.
Gerakannyapun menjadi semakin tidak terarah, satu persatu lawan Abimanyu dapat diatasi. Kali ini Swarcas menjadi korban  selanjutnya.

Gerak kordinasi antar ketiga lawan tidak lagi serempak menjadikan mereka saling serang. Swarcas terkena tombak dari Satrujaya. Meraung kesakitan Swarcas, jatuh terguling tak bangun lagi.

Satrujaya dan Suryabasa gemetaran, mereka tak percaya dengan apa yang barusan sudah terjadi.
“Hayuh, majulah kalian berdua, pandanglah bapa angkasa diatasmu, dan menunduklah ke ibu pertiwi, saatnya aku antarkan kamu berdua ke Yamaniloka !”. kata kata Abimanyu hampir saja tak terdengar oleh mereka, karena kerasnya dentam detak jantung kedua raja seberang yang semakin tak dapat menguasai dirinya lagi.
Dengan sisa keberaniannya keduanya sudah kembali menyerang lawannya dari kedua arah. Gerakannya yang semakin liar tak terkendali, tanda keputus-asaan, membuat Abimanyu dengan mudah membulan-bulani mereka berdua. Tanpa membuang waktu lagi, disudahi pertempuran keroyokan itu dengan sekali ayunan Kyai Pulanggeni. Jerit ngeri keduanya mau tak mau membuat hampir semua mata mengarahkan pandangannya kearah kejadian.

Pandita Durna sangat kagum dengan kroda prajurit muda belia itu. Dalam hatinya ia mengatakan,

“Weleh . . . . ,tidak anak, tidak bapak.! Keduanya ternyata sama saktinya. Kalau hal seperti ini dibiarkan, tak urung binasalah barisan prajurit Kurawa. .  !”.
Segera dipanggilnya Sangkuni dan Adipati Karna serta Jayadrata. Setelah mereka menghadap, Pandita Durna menguraikan karti sampeka akal akalannya,
“Adi Sangkuni, nak angger Adipati serta Jayadrata, bila dengan cara okol kita tidak dapat mengatasi amukan Abimanyu, maka kita harus menggunakan kekuatan akal kita. Setuju Adi Sengkuni ?”
“Eee. . . kakang Durna, kalau masalah itu jangan lagi ditanyakan ke saya. Pasti setuju!” Sangkuni mengamini.
“Terus anak Angger Adipati, kali ini tak ada jalan lain. Bila hal ini diterus teruskan, maka akan kalah kita . Minta pendapatnya nak angger Adipati! ”. Seakan Durna minta pertimbangan, padahal didalam otaknya sudah tersimpan rencana licik bagaimana cara mengatasi keadaan yang sudah mengkawatirkan itu.


Karna

Saat itu ia terhindar dari tuduhan Siti Sundari, namun setelah Kalabendana raksasa boncel lugu, paman Raden Gatutkaca, membocorkan rahasia perkawinannya dengan Putri Wirata, kusuma Dewi Utari, akhirnya terbuka juga rahasia yang tadinya tertutup rapi. Walau tak terjadi apapun akhirnya antar kedua istri pertama dengan madunya, namun sumpah tetaplah sumpah, ia berketatapan hati, inilah bayaran atas janjinya.

Diceritakan, Lesmana Mandrakumara alias Sarjakusuma, putra Prabu Duryudana yang baru saja mendapat ijin dari sang ibu untuk pergi ke peperangan. Padahal selamanya sebagai anak manja, ia tak banyak ia berkecimpung dalam keprajuritan, sehingga sifat penakutnya sangat kentara.

Dengan jumawa, kali ini ia melangkah menghampiri Abimanyu. Lesmana menghina Abimanyu dengan kenesnya, diiringi kedua abdinya yang selama ini memanjakannya, Abiseca dan Secasrawa.

Segera Sarjakusuma menghunus kerisnya untuk menamatkan riwayat Abimanyu. Anggapannya, ialah yang akan menjadi pahlawan atas gugurnya satru sakti yang akan dipamerkan kepada ayahnya.

“E . . e . . e . . . , Abimanyu, bakalan tak ada lagi yang menghalangi aku menjadi penganten bila aku kali ini membunuhmu. Atau jandamu biar aku ambil alih. Rama Prabu pasti gembira tiada terkira, kalau aku berhasil memotong lehermu”.

Dengan langkah yang masih seperti kanak-kanak sedang bermain main, ia maju semakin mendekat masih dalam kawalan kedua abdinya yang sedikit membiarkannya, memandang enteng kejadian didepan matanya.

“Terserahlah paman pendita, kali ini aku menurut kemauanmu ! ”. Jawab Narpati Basukarna sekenanya.

“Nah begitulah seharusnya. Kali ini aku meminta jasamu nak angger Adipati. Anak angger yang aku pilih karena memang seharusnya anak anggerlah yang dapat mengatasi masalah ini”. Durna mulai membuka strategi.

“Baik Paman Pendita, apa yang harus aku lakukan?” berat hati Karna menyahut.

“Begini, Adi Sengkuni, segeralah naikkan bendera putih tanda menyerah. Kemudian Anak Angger Adipati segera mendekati Abimanyu. Rangkul dan rayulah. Katakan kehebatannya dan pujilah ia. Selanjutnya Jayadrata, panahlah Abimanyu dari belakang. Bila sudah terkena satu panah, tidak lama lagi pasti akan gampang langkah kita”. Pandita Durna menjelaskan strateginya.

“Baiklah Paman Pendita, mari kita bagi bagi peran masing masing”. Adipati Awangga itu segera melangkah menjalankan strategi yang telah dirancang.
Demikianlah. Maka akal culas Pendita Durna mulai dilakukan. Kibaran bendera putih Patih Harya Suman membuat hingar bingar peperangan perlahan terhenti. Dalam hati para prajurit tempur saling bertanya, kenapa perang dihentikan?  Sementara orang mengerti, bila perang terus berlanjut, maka kebinasaan pihak Kurawa tinggal menunggu waktu.

Kali ini giliran Adipati Karna mengambil peran, didekatinya Abimanyu:

“Berhentilah anakku bagus . .!, Kemarilah. Sungguh hebat anakku yang masih remaja sudah dapat membuat takluk barisan Kurawa. Uwakmu sungguh ikut bangga dengan apa yang kamu perbuat . . . ” Setelah mendekat, dipeluknya Abimanyu dengan hangat, layaknya seorang paman terhadap keponakan yang telah  berhasil berbuat hal yang menakjubkan.

“Apakah sungguh begitu uwa Narpati . !   Bila memang barisan uwa sudah takluk, dan memang demikian adanya, segera eyang Durna dibawa kemari, layaknya seorang senapati takluk terhadap lawan”. Bangga Abimanyu.

Kebanggaan itu ternyata tidak berlangsung lama, Jayadrata dengan kemampuan memainkan gada yang luar biasa adalah juga seorang pemanah ulung. Dibidiknya punggung Abimanyu, seketika jatuh terduduk Abimanyu dengan darah menyembur dari lukanya.

Tak sepenuhnya tega Adipati Karna memegangi keponakannya yang terluka, mundurlah ia menjauhi arena peperangan. Ditemui Pandita Durna untuk diberi laporan.

“Paman Pendita, sekarang rencana paman sudah berhasil. Abimanyu terluka dipunggungnya, untuk tindakan selanjutnya, saya tidak ikut mencampuri urusan lagi”. Tutur Adipati Karna.

Terkekeh kekeh tawa Sang Pandita mengetahui rencananya sudah berhasil. Pikirnya biarlah tanpa Adipati Karna pun kemenangan sudah sebagian besar dicapai kembali. Segera Karna menjauh balik ke pesanggrahan.

Sepeninggal Adipati Karna, segera Durna memberi aba-aba untuk kembali menyerang. Namun Abimanyu tidaklah gentar, malah ia semakin bergerak maju menyongsong serangan.

“Heh para Kurawa . .!, Memang dari dulu sifat culas itu tidak akan pernah hilang. Akan aku kubur sifat culas kalian,  sekalian  dengan yang raga menyandangnya. Hayo majulah kalian bersama-sama. Tak akan mundur walau setapakpun walau Duryudana sekalipun yang maju !!”.
Walau terluka, ternyata Abimanyu masih segar bugar. Suaranya masih lantang dan berdirinya masih tetap tegar.

Melihat lawannya terkena panah yang masih menancap di punggungnya, aba aba keroyok bersahut sahutan. Dari jauh anak panah lain dilepaskan oleh warga Kurawa, sementara yang dekat melontarkan tombak dan nenggala serta trisula bertubi tubi. Dalam waktu singkat, segala macam senjata menancap ditubuh satria muda itu.

Namun hebatnya satria muda yang terluka parah ini masih maju dengan amukannya. Dari kejauhan gerakan sang prajurit muda itu bagai gerak seekor landak, oleh banyaknya anak panah dan tombak yang menancap di sekujur tubuhnya. Malah bila digambarkan lebih jauh lagi, ujud dari satria tampan ini bagaikan penganten sedang diarak. Kepala yang penuh senjata seperti karangan bunga yang terrangkai sementara tubuhnya bagaikan kembar mayang yang mengelilingi raganya. Ada sebagian senjata tajam mengiris perutnya. Usus yang memburai yang disampirkan pada duwung yang terselip di pinggangnya, seperti halnya untaian melati menghiasi pinggang.

Darah yang mengalir deras bagaikan lulur penganten yang membuatnya menjadi makin berkilau diterpa sinar matahari. Tidaklah berbau anyir darah Abimanyu, malah mewangi sundul ke angkasa raya. Saat itulah para bidadari turun menyaksikan kegagahan sang prajurit muda belia. Dalam pendengaran para bidadari, suasana yang dilihat bercampur dengan kembalinya denting padang yang beradu dan tetabuhan kendang, suling serta tambur penyemangat, bagaikan pesta penganten yang berlangsung dengan iringan gamelan berirama Kodok Ngorek!

Dilain pihak, dalam pikiran Abimanyu teringat akan sumpahnya kala menghindar dari pertanyaan istri pertamanya, Retna Siti Sundari, ketika curiga bahwa sang suami sudah beristri lagi. Sumpah yang diiringi gemuruh petir, bahwa bila ia  berlaku poligami, maka bolehlah orang senegara meranjap tubuhnya dengan senjata apapun.


Lesmana Mandrakumara

Abimanyu yang melihat kedatangan Lesmana Mandrakumara  mendapat ide, tidak dapat membunuh Duryudana-pun tak apa, bila putra mahkota  terbunuh, maka akan hancur juga masa depan uwaknya itu. Makin dekat langkah Sarjakusuma yang ingin segera menamatkan penderitaan sepupunya. Tapi malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, dengan tenaga terakhir , sang prajurit muda masih mampu menusukkan Kyai Pulanggeni ke dada tembus ke jantung putra mahkota Astina, tak ayal lagi tewaslah Lesmana Mandrakumara, berbarengan dengan senyum terakhir mengembang dibibir prajurit muda gagah berani itu. Abimanyu telah tunai melunasi janjinya.

Kembali suasana menjadi gempar. Gugurnya kedua satria muda dengan beda karakter bumi dan langit membuat perang berhenti, walau matahari belum lama  beranjak dari kulminasi. Kedua pihak bagai dikomando segera menyingkirkan pahlawan mereka masing masing.
Syahdan, Retna Siti Sundari yang hanya diiring oleh abdi emban menyusul  ke peperangan, telah sampai pada saat yang hampir bersamaan dengan gugurnya sang suami tercinta. Oleh istri tuanya, Utari tidak diperkenankan pergi bersamanya , sebab dalam kandungan tuanya terkadang terasa ada pemberontakan didalam, seakan sang jabang bayi sudah tak sabar hendak mengikut kedalam perang besar keluarga besarnya. Kemauan besar Retna Utari untuk ikut serta kemedan perang, terhalang oleh madu dan anaknya yang masih ada di dalam gua garba. Bahkan sang ibu mertua, Wara Subadra juga melarang Utari untuk pergi.

Ketika terdengar teriakan gemuruh menyatakan Abimanyu telah gugur, jantung wanita muda ini makin berdegup kencang. Ia segera berlari ketengah palagan tanpa menghiraukan bahaya yang mengintip diantara tajamnya kilap bilah-bilah pedang dan runcingnya ujung tombak. Sesampai di hadapan jenasah suaminya yang tetancap ratusan anak panah. Tidak terbayang sebelumnya akan keadaannya yang begitu mengenaskan, Siti Sundari lemas dan kemudian tak sadarkan diri. Suasana kesedihan bertambah mencekam dengan pingsannya sang istri prajurit muda itu.
Bumi seakan berhenti berputar, awanpun berhenti berarak. Burung burung didahan tak hendak berkicau, kombangpun berhenti menghisap madu. Jangankan sulur gadung dan bunga bakung yang bertangkai lembek, bahkan bunga perdu, seperti bunga melati dan cempaka ikut tertunduk berkabung terhadap satu lagi kusuma negara yang gugur, di lepas siang .

Sebentar kemudian, setelah siuman, Retna Siti Sundari yang telah sadar apa yang terjadi di sekelilingnya segera menghunus patrem, keris kecil yang terselip dipinggangnya. Dihujamkan senjata itu ke ulu hati. Segera arwah sang prajurit muda, Abimanyu, menggandeng tangan sukma istrinya, mengajaknya meniti tangga tangga kesucian abadi menuju swargaloka. Raga sepasang suami istri muda belia tergolek berdampingan. Mereka telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Minggu, 21 Desember 2014

Naskah wayang Karna Tanding

Karna Tanding

Ing wiwitanipun, Dhalang ngedalaken wayang Durna,Werkudara, Kresna, Petruk, lan Bagong.

Bismillahi tawakalna bismillah dulwaki padha dulwakane, iki purwa lilahing cerita hangeber jati. Duuh guguh Gusti anggadhahi mring awuh hari.

Surak-surak manengker gumuruh
Surak-surak manengker gumuruh
Swaraning wadya
Surak gambira
Unggul Bharatayuda
Para Pandhawa
Labuh nagara
Astina balane
Kurawa gugur
Madyaning palagan
Pandhawa Pandhawa Pandhawa
Kudu  bisa menangi perang Baharatayuda
O o o o o o o o o o o o
Baratayuda Jayabinangun
O o o o o o o o o o o o
Baratayuda Jayabinangun

1.                  Durna
Thole ole sukalela kempol manyar – manyar. He para wadya Kurawa, aja wedi kangelan, senapati Durna ingkang bakal mrantasi karya. Ayo Pandhawa maju tampanana pusakaning Durna.

Ruhing ruhing
O o o o o o o o o o o o

Werkudara ngrembug kahanan perang Bharatayuda ingkang nembe kalakon.

2.  Kresna
Yayi Werkudara.
3. Werkudara
Wa, jilitheng Kresna kakang iki.
4. Kresna
Barisane para Pandhawa. Barisane pesanggahan Gupalawiya, mendelong 17 m dalane.
5.  Wekudara
Wa, tantange guru Durna ngedab – edabi. Aku jaluk widi palilah karo kowe jilitheng kakangku.
6.Kresna
Nggo ngapa ?
7. Werkudara
Barisane bapa Durna tak trajange nganggo gada rujakpala.
8. Kresna
Hush, ngawur ! Perang Baratayuda kuwi dudu perang ampyak awur-awur paduwani. Bharatayuda kuwi mawa petung sing tenanan. Pandhawa dikumpulake aneng TegalKurusetra sakJawa Tengah dikumpulake aneng ngarep gedung wakil rakyat kuwi mawa petung ora mung ampyak awur – awur janji mangkat, bosok utekmu.
 Werkudara
Ya, jaluk ngapurane.
10.  Petruk
Yen dikumpulake ngene iki sangu dhewe kok.
11.  Bagong
Cerewet, wis siap aku.
12.  Petruk
Dibayar mung separo ya mangkat.
13.  Bagong
Siap.
14.  Petruk
Ya.
15.  Bagong
Wis ta wangu – wangu dhuwur konglomerat pejabat – pejabat kalahe karo wong nekad.
16.  Petruk
Ya.
17.  Bagong
Ora disangoni ora diapake do ngumpul nglumpuk kuwi batine ijek murni – murni.
18.  Petruk
Ya.
19.  Bagong
Angkara murka wedine karo wong sing bersatu.

20.  Petruk
Ya.
21.  Bagong
Aja nganti gendheng ceweng.
22.  Petruk
Ya.
23.  Bagong
Perkara ketua wae kok ribut, tujuane ya sing penting ana ketua harian, ana ketua mingguan, ana ketua ora mingguan, ketua bulanan, ngono kuwi.
24.  Petruk
Ya.
25.  Werkudara
Aku jaluk eguh pertiker carane Durna gugur.
26.  Kresna
Bagus.
27.  Kresna
Rungokake.
28.  Werkudara
Ya.
29.  Kresna
Sing waspading tingal mor gageenggal ngulaten sisi kulon kae.
30.  Kresna
Kowe weruh sing aning kulon kae sapa ?

31.  Werkudara
Kae Petruk karo Bagong.
32.  Kresna
Jiaja laknat, kowe lunga wong elek.
33.  Petruk
Ora muni – muni sing mau, kowe ya ora ngelingake.
34.  Bagong
Padha – padha mangkat ya ora ana sangune kok.
35.  Petruk
Kowe dadi lurah meh rong taun meneh Gong.
36.  Bagong
Jaluk perpanjangan.
37.  Petruk
iya, iki undang – undange lagi digodhok.
38.  Bagong
Yen ora mateng – mateng ya demo maneh.
39.  Petruk
Demo sing arep teka?
40.  Bagong
Lurah – lurah parade nusantara kon do wuda.
41.  Petruk
Ngawur.
42.  Kresna
Kae ana narendra ingkang melu ampyak awur – awur Narendra tanggul angin jenenge prabu Premeya.
43.  Werkudara
Wa, sing numpak gajah gawa karung pirang – pirang ?
44.  Kresna
Ya kae melu Bharatayuda Jayabinagun nanging ora melu belani kurawa ora belani Pandhawa.
45.  Werkudara
Ora belani Kurawa ora belani Pandhawa.
46.  Kresna
Maju peperangan kae Kurawa ya gething, barisane Pandhawa apa maneh sebab prabu Premeya.
47.  Werkudara
Srengengene kok byar pet.
48.  Kresna
Lha iki mau ana mendhung liwat.
49.   Werkudara
La ngapa nggawa karung ?
50.  Kresna
Prabu Premeya ki ora melu Pandhawa ora melu Kurawa mlebu aneng Bharatayuda Jayabinangun kuwi goleki potolane gaman, goleki potolaning topong kencana, topong berliyan sajan wis kutah getih digawa mulih, emase karo berliyane dikleteki kanggo pesugihan.

51.  Kresna
Gajahe kae jenenge gajah Hastitama.
52.  Werkudara
Gajah Hastitama ?
53.  Kresna
Ya.
54.  Werkudara
Aku kon ngapa ?
55.  Kresna
Werkudara njangkaha sepisan kepruken nganggo gada rujakpala, prabu Premeya sagajahe kudu mati.
56.  Werkudara
Kena apa gajahe kudu mati ?
57.  Kresna
Gajah kae jenenge gajah Hastitama, nawur laku karo Haswatama.
58.  Werkudara
Haswatama anak Durna ?
59.  Kresna
Bener, sebab kowe tak kandani ya Werkudara, pandhita Durna maju peperangan kae saktemene atine gempung. Atine gempung mergane apa ? murid – muride ora metungake Pandhawa Kurawa pada peperangan aneng Palagan Kurusetra. Nanging kena apa pandhita Durna tetep dadi senopati neng Kurawa mergane pandhita Durna kuwi arep goleke kamukten anake kang jenenge Bambang Haswatama.


60.  Werkudara
Sakwise aku mateni prabu Premeya karo gajah Hastitama.
61.  Kresna
Pun kakang bakal alok aneng madyaning Palagan Kurusetra sanajan pun kakang dedege cendhek. Dedege cendhek nanging yen perkara bengok pun kakang iki sora ora usah nganggo pengeras suara.
62.  Petruk
Langite ya ketap – ketip wae.
63.  Werkudara
Wa, kudu alok Haswatama mati.
64.  Kresna
Ya, kumyur penggalihe Bagawan Durna ing kana dadi gugure gurumu.
65.  Werkudara 
Ya jaluk tambahing pangestu.
66.  Kresna
Sing ati – ati iki kudu guyonan Werkudara.

(Werkudara perang tandhing karo Aswatama. Aswatama anake Durna nitih gajah jenenge Hestitama)



67.  Duryudana
Aswatama mati! Aswatama mati! Aswatama mati!
68.  Petruk
Aswatama mati. Aswatama mati.
69.  Duryudana
Sing seru goblok.
70.  Petruk
Anggota DPRe mati.
71.  Duryudana
Aswatama.
72.  Petruk
Haswatama mati,Haswatama mati.
73.  Bagong
Asu mati.
74.  Petruk
Heh, Haswatama mati.
75.  Durna
Haswatama bangka, ana kabar apa ? haswatama mati ? aduh ngger anakku Haswatama. Haswatama......
Aku iki won tuwane Haswatama. Haswatama, kowe anaku yen pancen mati krasa atiku. Atiku iki ijek nambang rada semu ora percaya tak takon Pandhawa.
76.  Kresna
Kula wus raosaken kados paman Durna.                          
77.  Durna
Lo le lo le, sang prabu Kresna.
78.  Kresna
Wonten menapa ?
79.  Durna
Kabar geger maneher gemuruh wonten madyaning Palagan Kurusetra ngabahaken pun anak kula Bambang Haswatama menika pejah leres menapa boten ?
80.  Kresna
Inggih, pancen na Haswatama mati paman Durna.
81.  Durna
Ash, ora ngandel, Kresna ki tukang apus – apus, ahli politik, uteke bosok ya Kresna, ora ngandel aku.
82.  Durna
Ho, anakku ngger Arjuna.
Anakku sing tak tresnani ngger Arjuna.
83.  Arjuna
Wonten dhawuh timbalan bapa panembanDurna.
84.  Durna
Werkudara.
85.  Werkudara
Wa, Durna bapak kuwi.

86.  Durna
Adhimu Haswatama mati, bener ?
87.  Werkudara
Kados pundi bapa ?
88.  Durna
Haswatama mati ?
89.  Arjuna
Inggih, kula turi taken kakang Werkudara.
90.  Durna
Haswatama mati ngger.
91.  Werkudara
Takona Arjuna.
92.  Durna
Haswatama mati ngger.
93.  Arjuna
Taken kakang Werkudara.
94.  Werkudara
Takona dhimas Arjuna.
95.  Durna
E... wakil rakyat kok ora duwe panemu, wakil rakyat kok limpa – limpe kaya lonte.
96.  Petruk
Haswatama mati ?
97.  Durna
Aja colak – colek, ana apa kowe Petruk nyegat lakuku.

98.  Petruk
Haswatama mati niku.
99.  Durna
      Wa, ora ngandel cangkemu bosok,hm.
100.          Petruk
Ngandel kula, kula niki boten kok kula niki garah.
101.          Durna
Was, kowe ya kaya wong politik biasa kowe. Nak pertama arep maju janjine muluk – muluk karo rakyat. Mengko nak wis dadi lali, minggat-minggatana.
102.          Petruk
      Haswatama mati.
103.          Durna
      Ora ngandel.
104.          Bagong
      Tenang.
105.          Durna
      Haswatama mati bener Bagong ?
106.          Bagong
      Kleru, salah.
107.          Durna
Alhamdulillah, Punakawan - punakawan Bagong mung kowe wong kang jujur.


108.          Bagong
Jujur kacang ijo. Haswatama ki maune boten mas mbah.
109.          Durna
      Ora mati piye ?
110.          Bagong
Ramene Baratayuda Jayabinangun, Haswatama niku kekeselen.
111.          Durna
      Melu perang.
112.          Bagong
Inggih, Bos Haswatama kekeselen. Haswatama ngletak ing pinggire wit randu alas.
113.          Durna
      Turu.
114.          Bagong
Boten ngerti, ngletak dumadakan wonten jaran lewat, la sikile jaran mau ngidak pring silane Haswatama bledhos, modar.
115.          Durna
      Bajingan kowe rumangsaku iki.
116.          Arjuna
Kanjeng kaka prabu Sri Batara Kresna, merbeki dhumateng ingkang rayi kula Puntadewa.
117.          Kresna
Yayi, Baratayuda Jayabinangun menika dinten iki sampun rampung dipuntemtokaken anggenipun paduka yayi prabu badhe mangsuli dhumateng pitakenanipun bapa pandhita Durna.
118.          Arjuna
      Babagan menapa kaka prabu ?
119.          Kresna
Gajah Hastitama dipunpejahi kaliyan ingkang rayi Werkudara piguna buyaraken dhumateng angen – angen ing pandhita Durna para wadya babi sami alok menawi Hastitama menika kasamur ingkang kapireng boten sanes nemu kajawi Haswatama mati, Haswatama mati.
120.          Arjuna
Kamangka ingkang pejahmenika sanes Haswatama ingkang pejah menika gajah Hastitama.
121.          Kresna
Kong kok gemlodang men ta, gender nika. O malah ayah nak gender aja gawa ali – ali, dicopot.
122.          Arjuna
Bharatayuda Jayabinangun ingkang tumplah blah wonten ing padang Kurusetra kancingipun kantun Puntadewa ingkang saklaminipun rumitah boten nate goroh, kula boten saged ngandakake Haswatama mati yen sing mati gajah Hastitama.

123.          Kresna
Yayi sepindah kemawon menika menawi pandhita Durna pitaken Haswatama mati paduka sampun ngambali Haswatama mati nanging paduka wangsulana, inggih ngoten.
124.          Arjuna
Kula menika sanes lare TK boten usah dipundekte menapa kemenangan luhur menawi kemenangan kanthi geroh.
125.          Kresna
Ha, ya wis lah yayi. Mangsa baranga menang kena ora ya kena Bharatayuda.
126.          Durna
      Gangga ngger, gangga ngger.
127.          Durna
Ee, anakku ngger Puntadewa luman jagad kurbing langit boten wonten titah ngarcapada ingkang kagungan getih putih namung kajawi paduka anak ngger.
128.          Puntadewa
      Inggih wonten punapa Bapa Durna
129.          Durna
Geger meneher gemuruh swara ta arebah wadya bala Gupalawiya ngabaraken menawi Haswatama menika mati.


130.          Kresna
Menika Bharatayuda yayi prabu, kemenanganipun Pandhawa menika lan kawonipun.
131.          Puntadewa
Gumantung paduka yayi, kula aturi diem kaka prabu.
132.          Kresna
Oo, inggih diem menika emas nggih kula badhe ngapurancam kemawon.
133.          Durna
      Kresna ora usah melu – melu.
134.          Kresna
      Boten, boten.
135.          Petruk
      Reng reng.
136.          Gareng
Nun, panjenengan boten taken kalih kula yen Haswatama mati apa ora.
137.          Durna
      Ora kanggo, wis emoh aku.
Ora ana swarane, yen mangkat ora tau sangu dhewe. Senengane ngrepoti kancane, mulih jaluk sangu, nek kowe kuwi bangsane monyet. Haswatama pejah ngger?
138.          Puntadewa
      Inggih bapa.
139.          Durna
      Aduh! Mati aku.

  o o o o o o o o o o o

140.          Kresna
      Selamat inggih yayi.
141.          Puntadewa
Wong goroh dislameti, wong jujur malah disiya-siya. Duh jagad badhe ngalami menapa kaka prabu.


O o o o o o o o o o o o
O o o o o o o o o o o o
O o o o o o o o o o o o
Presiden o presiden
Rakyat alit
Penggalihe raos sang resi
Pandita Durna langkat
Kembang kinkin
Lan tanpa daya
Nugrahing driya

142.          Durna
Duh, jagad Dewa Batara wus tanpa guna. pandhita Durna ngayahi Bharatayuda Jayawinangun titah ingkang tak dama – dama muridku Puntadewa kena apa menika Durna wani ngadheg senapati ngrangkahi Negara Ngastina kamangka Durna ngerti kalamahan ambegedusi candela dumunung ananging nagara Ngastina nanging saiki dumadine ora kaya angen – angenku. Gela rasaning atiku muspa ora ana gunane pandhita Durna ngayahi Baratayuda Jayabinangun. Tak selehake langganiku ora sudi wis ora sudi, ora ana wong jujur tumimpang ing bumi iki.
143.          Narendra Parang
Pandhita Durna, aku Narendra Parang gelung alukat maut ganti pusakaku kanthi srana kowe tanganku nganti tugel minangka dalan pasiku Durna dina iki wis telas tuliswi  wis entek uripmu nanging yen ora bareng nglawan sing jenenge ingsun ya mung kowe biyen kang minangka dadi pujaan ya kuwi Durna kang minangka dadi guru batinku kowe ora bakal bisa weruh lawange swarga yen ora tak tuntun dening Bambang Ekalaya. Ya Senapati Tresta Jumena kowe kang minangka sarana tugelen gulune Pandhita Durna.
144.          Senapati Tresta Jumena
      Mati Pandhita Durna kowe.


Aowe eowa aowe eowa
Ana tangis layung-layung
Layung hayung
Tangise wong
Mecah ati

145.          Duryudana
Bapa Durna, bapa Durna inten babar pindah paduka seda mustakanipun kangge bal – balan paman Sengkuni.
146.          Sengkuni
      Wonten dhawuh sang prabu Duryudana.
147.          Duryudana
Tulung sutilasa atiku yen aku durung bisa males kiwul sedane sang senapati guru Durna.
148.          Sengkuni
Sinuwun, srengengene sampun lingsir mangiten kasepakatan Bharatayuda Jayabinangun benjang badhe dipunwiwiti malih menawi pajar sampun sumingsir, menawi Sang Hyang mentari sampun madangi ing bambang wetan, sinuwun.

            Reng-renging swarane dwi angkara kingkin
Lir manguswa kang nglayung



149.          Durna
Bapa Durna, kula ngaturaken gunging panuwun ingkang tanpa pepindahan dinten samangkih kula samektakaken upacara ageng – agengan minangka kangge tanda yekti pisungsung kula dhumateng senapati Agung.
150.          Kurawa
      Ya ya.
151.          Sengkuni
Hush! Ana wong berduka cita ya ya mangsamu iki budhalan apa piye ?

Mungguh sang Sri
Para nawa
Menggah sini walapa
Ingkang depa
Rana yaca
Rahana diwa santaka
Wahurta 
Prabu Duryudana wunyah
Jroning driya
Tan dalindir seba nira
Sang resi pandita Durna
Nadyan cengkang Baratayuda
Pandhawa lawan Kurawa
Tan sinedya Baratayuda
Kurawa surya nalaka
Datan kinkin sajroning pesanggrahan
Datan ana tan wani nyabawa
Mung tansah hanengga dhawuh

Saking santaka